Rabu, 17 September 2008

RAMADHAN #15


Saya ingin cerita tentang salah satu sahabat baru saya yang kisah perkenalannya cukup unik, saya namakan "Tragedi Panci"

Pertama, saya berkunjung ke blog beliau
Kedua, saya undang beliau untuk gabung milis TDA Bandung
Ketiga, saya chatting dengan beliau
Keempat, kami janjian untuk ketemuan di RK
Kelima, gara2 panci kami jadi makin erat silaturahimnya

Namanya Kang Agus Ramada, profesinya petani dan peternak, bahasa kerennya Agropreneur. Rumah beliau ada di bekasi, tapi waktunya lebih sering dihabiskan di Soreang. Karena disanalah beliau biasa bercengkerama dengan anak didiknya, para domba :D

Nah, walaupun Soreang tuh Bandung2 juga, tapi lokasinya cukup jauh dari RK yang ada di pusat kota (cieeh pusat kota gitu loh). Dari soreang ke RK kalo lancar bisa ditempuh dalam waktu sejam. Tapi seringnya, perjalanan ga bakalan lancar karena daerah sana macet banget. Mungkin ada kali satu setengah jam baru bisa nyampe.

Artinya, dengan meluangkan waktu ke RK dari Soreang, itu merupakan kehormatan tersendiri bagi saya dari beliau. 

Kami janjian jam sekian, saya pun menanti dengan manis di RK. Tapi ternyata kru dapur meminta saya untuk belanja panci yang sifatnya darurat. Karena berpikir belanja panci ga akan lama, saya pun berangkat. Toh Kang Agus bisa menunggu bentar sambil makan dulu, pikir saya. 

Saya meluncur ke daerah Kalipah Apo, pusat belanja alat dapur yang lengkap dan murah di Bandung. Saya pun memarkir motor di depan toko langganan saya. 

Masuk ke toko, saya langsung ke pelayannya yang udah saya kenal, minta diambilin panci yang bagus. Nah, sambil melihat2 di dalam toko, saya baru sadar kalo di RK lagi kurang piring sama gelas. Maka saya pun mendadak minta ke sang pelayan toko, untuk mengambilkan dua barang tersebut.

Kang Agus nge-SMS, katanya udah nyampe pake taksi
Saya bales, maaf kang, tunggu bentar, makan dulu aja sambil nunggu

Saya pikir belanja piring sama gelas bakalan sebentar. Tapi saya lupa satu hal. Yaitu kalo beli barang yang ginian, harus di cek satu2 dari kardus. Khawatir ada yang retak atau bahkan pecah. Ga mau rugi dong, karena barang yang udah dibeli ga bisa dikembalikan. 

Disanalah saya lupa waktu, karena keasyikan melakukan Quality Control. Baru sadar kalo saya kelamaan di dalem toko.

Maka pas pulang pun saya ngebut. Lewat jalan pintas. Demi menemui juragan Agus yang udah jauh2 dateng ke RK. 

Setibanya di RK, sambil nafas ngos2an, saya melihat ke sekeliling. Kok cewek, masa cewek namanya Agus :P

Saya merogoh saku celana, ada 2 SMS disana. Isinya permohonan maaf karena harus segera pamit, dan permohonan maaf karena daging domba yang tadinya mau dihadiahkan ke saya dibawa pulang kembali. 

Astagfirullah, kurang ajar sekali saya, ada tamu dateng mau silaturahim jauh2, sambil bawa hadiah lagi, eh saya cuekin gara2 beli panci. 

Maka setelah berkonsultasi dengan manajer RK (namanya Agus juga) saya putuskan detik itu juga kami berdua akan meluncur ke Soreang. Membayar kelalaian kami, meminta maaf, sekaligus membawa Ikan Gurame Spesial untuk merekatkan tali silaturahim yang cedera. 

Kami tiba disana saat matahari tenggelam, maghrib. Dan untuk pertama kalinya kami bertemu secara nyata (bukan maya lagi!) dengan kang Agus Ramada. Sambil menyerahkan sogokan berupa Gurame Spesial racikan tim RK :P

Karena keasyikan mengobrol, tak terasa sudah jam 8 malam. Dan saking terburu2nya tadi, saya ga bawa jaket. Padahal Soreang dingin, bisa sakit kalo pulang naek motor malem2 ga pake jaket. 

Kang Agus pun menawari kami bermalam. Walau asalnya ragu, akhirnya kamipun meng-iya-kan. Karena jarang2 pertama kenal bisa langsung akrab kayak gini. Apalagi silaturahim yang berlanjut dengan bermalam, biasanya akan lebih langgeng hasilnya. 

Obrolan malam itu berakhir sampai jam 2 malam. Dan filosofi yang saya dapat dari kang Agus Ramada adalah : 

Mengelola bisnis itu ibarat telor, cukuplah kita dengan menikmati kuningnya, sementara putih telornya kita bagikan ke lingkungan sekitar. 

Paginya, kami diajak berkeliling kebun dan kandang. Wah keren, kalo biasanya dalam benak kita kandang itu kotor, disini malahan bersih. Selain itu, limbahnya juga (tahi & kencing) bisa dijadikan pupuk organik buat perkebunannya. Wah mantap bener!

Setelah diajak berkeliling, kami pun dibawa ke sebuah lapangan. Ternyata disana ada pertunjukan spektakuler, namanya adalah Cek Birahi Domba, intinya sih ngeliat domba dikawin2in.

Nah yang spektakuler adalah, dalam lapangan itu cuma ada 1 domba jantan, yang dikelilingi sekitar 15 domba betina. Wuiiih enak bener, bebas milih dia mau ngawinin yang mana, dan ga cukup sekali, hahaha... 

Singkat cerita kami pun pulang. Dan memang bener, silaturahim kami alhamdulillah makin erat. 

Misal, Kang Agus Ramada makan sekeluarga di RK, sambil minta agar kami sharing pengalaman ke istri beliau yang mau buka restoran juga. Dari sini berlanjut dengan pengiriman sampel seekor domba SECARA GRATIS untuk dites harga, berat, kualitas daging, dan tingkat keempukannya oleh tim RK.

Terus, Kang Agus ngirim seekor domba muda SECARA GRATIS agar diracik tim RK, untuk dipersembahkan di acara buka puasa bersama TDA Bandung.

Setelah itu, pernah kami belanja daging ga banyak cuma 3,8 kg, tapi diantar sendiri oleh Kang Agus jauh2 dari Soreang. Subhanallah...
 
Yang terbaru, besok kami bakalan diliput Trans7 padahal restoran baru 5 bulan buka. Dan tebak, siapa yang merekomendasikan ke wartawannya? Yak betul, lagi2 Kang Agus.

Malu rasanya kalo membandingkan apa yang beliau beri dengan apa yang sudah kami beri ke beliau. Semoga do'a kami agar Allah memberikan ganti yang lebih baik dan lebih banyak untuk beliau dikabulkan. Amiiin

Artikel terkait silaturahim kami bisa diklik disini

Selasa, 16 September 2008

RAMADHAN #14


Alhamdulillah walau usia udah segini, Allah masih memberikan kesepatan buat saya untuk belajar ngaji minimal seminggu sekali. Gurunya adalah Kang Topan, kakak kelas saya pas SMA dulu. Dan diantara pesertanya pun ada yang merupakan teman SMA saya juga, namanya Pri

Biasanya paket pertemuan kami adalah baca Qur'an, bahas yang udah dibaca, (kalo ada) setor hafalan, dan ditutup dengan materi ringan. 

Pertemuan ini membahas Surat Al Anfal, surat ke-8, ayat2 awal tentang perang Badar yang terjadi pas bulan Ramadhan. 

Nah yang menarik dari pertemuan kali ini adalah, ada pembahasan tentang mimpi basah :P 

Gimana ceritanya? Jadi begini nih...

Suatu hari, Rasul SAW dan para sahabatnya hendak menyerang kafilah dagang Abu Sufyan yang notabene membawa harta sangat banyak dan tentu ada pasukan penjaganya. 

Masalahnya, saat pasukan umat Islam sedang di tengah perjalanan, info peperangan ini bocor ke kafilah Abu Sufyan. Maka, Abu Sufyan pun berbalik, dengan tujuan meminta bala bantuan

Mengetahui hal itu, sebagian diantara para sahabat pun menjadi ragu, selain karena tadinya mereka pengen harta rampasan perang yang kebayangnya bakalan mudah didapat, merekapun tidak begitu siap bila harus menghadapi musuh yang jumlahnya mendadak jadi lebih banyak. 

Yah sahabat Rasul juga manusia, ibarat kita udah punya niat awal begini dan begitu, eh di tengah jalan kondisi berubah 180 derajat. Tadinya kebayang dapet harta, eh ternyata malahan harus korban nyawa. 

Saat itulah turun perintah dari Allah, agar mereka lebih yakin akan janji dan pertolongan Allah, daripada itung2an logika. 

Akhirnya para sahabat pun patuh, sami'na wa atho'na...

Nah, apakah bentuk pertolongan Allah untuk mereka ?

Pertama, kabar gembira bahwa Allah akan turunkan 1000 malaikat sebagai bala bantuan perang buat mereka. Bayangkan, apa yang lebih menenteramkan hati apabila ada kabar sebelum perang, bahwa kepastian menang sudah ditangan?

Kedua, jaminan Allah bahwa Dia akan menyelusupkan rasa takut kedalam hati musuh. Dan ini bisa dikatakan musuh sudah kalah duluan sebelum bertempur. 

Ketiga, dan ini yang menarik, semalam sebelum perang, pasukan kaum muslimin bisa tidur dengan nyenyak. 

Padahal, besok kebayang bakalan tempur, bakalan terluka, bakalan mati. Intinya mah harusnya stress tingkat tinggi, eh kok malahan bisa tidur dengan nyenyak.

Nah, tidak cukup hanya disitu. Dijelaskan dalam Tafsir Ibnu Katsir, bahkan kebanyakan pasukan kaum muslimin paginya bangun dalam keadaan junub.

Artinya, mayoritas pada mimpi basah !

Subhanallah, besok perang, eh ini malahan kondisinya super rileks. Udah mah tidur nyenyak, mimpi basah lagi :D

Nah, disebutkan juga paginya turun hujan. Selain agar pasukan bisa mandi besar, juga katanya sih agar pijakan tanah saat perang lebih kokoh dan mantap. 

Jadi apa hikmah yang bisa kita ambil dari sini?

Jangan ragu untuk melangkah, bila kita yakin jalan yang kita tempuh diawali dengan niat yang baik. Walaupun di tengah jalan muncul berbagai kendala yang membuat bimbang. 

Yakinlah, bahwa bila niat awal kita sudah benar, janji dan pertolongan Allah akan datang, seberat apapun kendalanya. 

Buat sahabat2ku yang sedang merintis cita2 mulianya, keep moving forward !

RAMADHAN #13

Khotbah kedua, alhamdulillah saya terbangun sambil mengumpulkan nyawa.

Yah, memang akhir2 ini saya mudah tertidur saat khotbah ju'mat, katanya sih kalah sama Syetan yang namanya Kuhyal

Penceramah jumat ini adalah Ustadz Abu Syauqi, mantan kandidat wakil walikota Bandung, kurang lebih beginilah isinya : 

Sidang jumat yang berbahagia

Saya akan menyampaikan pengalaman pribadi saat mengikuti debat publik beberapa waktu yang lalu.

Saat itu, di sebelah saya ada seorang bapak, sudah sepuh. Saat saya tanya, usianya diatas 80 tahun. Tapi, bapak itu masih terlihat segar.

Saat saya tanya rahasianya, bapak itu menjawab dengan semangat
"Pertama, jaga pola makan
Kedua, istirahat yang cukup
Ketiga, olahraga teratur
Dan keempat, wanita"

Saya kaget, lalu meminta penjelasan dari beliau 
"Maksudnya wanita pak?"

Sambil tersenyum bangga bapak itu menjawab
"Gini dik, maksudnya saya adalah 
Yang 99% kita kasih ke istri kita
Yang 1 % kita mainkan ke wanita lain
Biar seger !"

Astagfirullah...

Sidang jumat yang berbahagia, apa yang ingin saya sampaikan adalah 

Bahwa hidayah itu mahal dan harus disyukuri.

Bapak tersebut, di usia senjanya, masih jauh dari tuntunan Allah.

Sementara di masjid dekat rumah saya, ada seorang remaja 15 tahun, yang sebelum adzan shubuh sudah duduk mengenakan seragam SMAnya sambil khusyuk dengan tilawah Al Qur'an.

Jika kita gunakan logika, mana yang seharusnya lebih berhak untuk Allah beri hidayah?

Bapak yang usianya sudah senja, atau anak muda yang secara hitung2an manusia masih jauh dari kematian?

Begitulah, Allah memberi hidayah siapa yang Dia kehendaki, dan menyesatkan siapa yang Dia Kehendaki. Dan Allah Maha Bijaksana.

Maka sidang jumat yang berbahagia, di bulan ramadhan ini, marilah kita bersyukur dengan hidayah yang telah Allah berikan. 

Alhamdulillah hingga saat ini kita masih dimudahkan untuk beramal shaleh. Mari kita jaga baik2 hidayah ini.

---

Tambahan, ada Hadits yang diriwayatkan Bukhari-Muslim dari Ali bin Abi Thalib bahwa Nabi SAW bersabda :

”Setiap diri kalian telah ditulis (ditetapkan) tempatnya di Surga atau di Neraka. 

Ada seseorang sahabat bertanya, ”Mengapa kita tidak pasrah saja, wahai Rasulullah?” 

Beliau menjawab, ”Tidak, beramal-lah, karena masing-masing akan dimudahkan.”

Nah, hubungan antara hadis ini dengan ceramah Ustadz Abu Syauqi diatas adalah, saat kita dimudahkan dalam mengerjakan amalan ahli surga, kita harus beryukur dan menjaga hidayah itu baik2, karena siapa tau tempat kesudahan kita adalah surga :)

Minggu, 14 September 2008

RAMADHAN #12

Setapak demi setapak, apa yang telah kucapai dalam kehidupan ini, aku selalu ingin melakukannya dengan lebih baik lagi. Aku tidak pernah terdorong untuk melakukan yang lebih baik karena rasa iri, melainkan, berdasarkan kemampuanku sendiri (Joe Kamdani, founder Datascrip)

Ilustrasi pertama

Saya yakin, kebanyakan orang pernah jatuh karena cinta. Misalnya karena kekasih yang didamba ternyata tidak memilih kita sebagai pasangan hidupnya.

Jujur saja, saya pun pernah.

Dan sebagai dampaknya, saya menjadikan prestasi sebagai pelarian. Baik dari aspek akademis, aspek eksistensi, maupun aspek finansial.

Intinya saya ingin, dengan prestasi yang saya raih, si teteh menjadi menyesal karena tidak memilih saya. Dengan kata lain, saya berprestasi karena iri pada pasangan yang dipilih si teteh.

Memang sih, energi yang dihasilkan sangat dahsyat. Namun, karena bahan bakar energi tersebut bukanlah sesuatu yang baik, maka hasilnya pun menjadi buruk.

Prestasi yang didasari rasa iri hanya melahirkan perasaan hampa.

Ilustrasi kedua

Entah ini hanya berlaku bagi saya, ataupun berlaku pula pada pengusaha lainnya.

Kata2 sensitif bagi golongan ini biasanya adalah, omset, profit, modal, jumlah karyawan, total liputan media, dan sebagainya.

Misalkan kita melihat teman kita yang bisnisnya anu, modalnya cuman sedikit, tapi menghasilkan profit sekian.

Kita jadi pengen, padahal saat ini sedang mengelola bisnis yang bidangnya berbeda. Karena rasa iri, kita pun mencoba bisnis yang berbeda tersebut dengan alasan hanya sambilan.

Awalnya banyak yang bilang, wah hebat, bisnisnya banyak padahal usianya masih muda.

Tapi pada akhirnya, bisnis yang baru akhirnya bangkrut karena namanya juga pengen instan, dan bisnis yang udah jalan akhirnya tutup karena ga keurus.

Prestasi yang didasari rasa iri hanya menghasilkan kehancuran.

---

Begitulah, jangan jadikan rasa iri sebagai bahan bakar perjalanan kita dalam hidup.

Buku berjudul Succeed above Success yang ditulis oleh Pak Joe menggambarkan kebenaran pernyataan tersebut.

Entah ini sesuai dengan pemikiran penulisnya atau tidak, ada dua hal yang saya simpulkan dari tiap tahap kemajuan hidup Pak Joe ini.

Pertama, dia ingin sukses agar istrinya bahagia
Kedua, dia ingin perusahaannya sukses agar karyawannya bahagia

Sebagai buahnya, hingga hari ini Datascrip tetap merupakan salah satu perusahaan solusi bisnis perkantoran terbesar di Indonesia.

Resensi : Belajar dari Filosofi Kucing Bersepatu Lars by Majalah Gatra

Jumat, 12 September 2008

RAMADHAN #11


Alhamdulillah, kabar gembira datang dari Budi, manajer keuangan RK

"Kang Agah, terhitung bulan Agustus, cashflow kita mulai positif"

Serasa melayang2 ke langit ke tujuh mendengarnya. Walau kemudian kesadaran saya pulih mendadak setelah mengetahui bahwa angkanya cuma cukup buat beli sepasang sepatu pantofel :D

Tapi biarlah, seberapapun angkanya, ini adalah suatu hal yang sangat patut disyukuri. Pencapaian kami terbilang cepat bila dibandingkan dengan cerita teman2 lain yang sama2 merintis bisnis.

Mungkin ada yang bertanya2, gimana caranya biar sebuah bisnis bisa bertahan di awal2 pendiriannya?

Ulasan dari teman saya, Tante Adzan mungkin bisa mewakili

----

Suatu siang ada sahabat datang ke rumah

mr.X : Zan, istri gw udah siap nih buka resto bakmi
saya : Oh bagus, emang ada permintaan?
mr.X : Ga sih, cuma dia diajarin sama koki terkenal, bahan baku murah dsb...

Ditempat lain, dengan tokoh yang berbeda
si Y : Eh gw kenal sama produsen jilbab yang itu lho.. mau jualan jilbab juga ah
saya : Emang ada permintaan jilbab?
si Y : Ya ga ada sih..

Coba perhatikan,
dua orang diatas hanya memperhatikan aspek produksi dari perusahaan (kesediaan suplier dan bahan baku). Padahal prinsip entrepreneur adalah "to sell". kata "to sell" ini memerlukan obyek tentunya, yaitu buyer or customer. Subyek nya pun diri kita sendiri sebagai pedagang. Sama sekali ga perlu peran Suplier disini. Betul ga?

Kalau kata Pak Fauzi, sama dengan konsep dagang di negeri china.

Satu cerita lagi dari temen saya yang lain, sebut saja Z

mr.Z : gw mau bikin sabun sejenis sunlight
saya : wah bagus donk. ada permintaan? (pertanyaan standar saya hehehe)
mr.Z : ya pasti ada lah. Pengguna sunlight itu misalkan 10 juta orang, masa ya susah saya mau ambil 10% nya (baca : 1juta orang). Harga kita lebih murah loh
saya : ya susahlah.. (tentu saja diucapkan dalam hati ahhaha)

Kenapa dibilang berdagang di negeri china, karena ada pepatah "masa iya dari 1 milyar penduduk china 1%-nya ga menggunakan sabun produksi saya"

Lagi-lagi aspek produksi!
Kenapa sih ga mulai bisnis dari yang jelas2 sudah ada permintaan!!

Nah ini contoh yang lebih mentingin aspek keuangan
mr.A : Gw punya duit 1 M diabisin buat apa ya
saya : terserah
mr.A : gw beli indomaret sama shop and drive deh
saya : pertimbangannya? emang suka bisnis retail sama bengkel?
mr.A : ngga juga sih. cuma mau invest aja


Bandingkan dengan yang ini.. rasakan bedanya
mr.B : gw mau produksi bioethanol ah..
saya : loh kenapa?
mr.B : abis udah ada buyer yang mau, tinggal kontrak maka beres
Udah pasti untung kan?

Atau yang satu ini
Mrs.C : Mas, karyawan mas kan ada 30 orang, saya yang bikin catering nya deh. Dijamin lebih murah, sehat, enak. Saya belum punya usaha apa2 nih mas.
saya : Ya, kenapa enggak
Udah pasti untung kan?

Ditambahin deh
Mr.D : Mas, kan warnet ada belasan, ditambah ada ISP sama konsultan, gimana klo yang suplay komputer dan hardware saya aja. Saya jamin lebih murah, servis dan purna jual lebih memuaskan
saya : Ya kenapa ngga, udah pasti untung kan?

Gimana, ada perbedaan kan?
Yang fokus sama produksi sepertinya lebih gambling dan berisiko. Model seperti inilah yang sering dianut oleh teman2 kita. Dan salah satu penyebab terbesar kegagalan berbisnis.

Sementara 3 ilustrasi terakhir adalah orang2 yang fokus sama demand, baru setelah itu mikirin produksi dan lain2. Orang2 seperti inilah yang memastikan kemenangan sebelum bertarung.

Itulah mengapa Bob Sadino pada awalnya door to door jualan telur ayam. Karena saat itu (selain kurang modal tentunya), permintaan yang ada hanyalah yang dari rumah ke rumah. Jadi ga perlu kan bermodal ribuan peti telur. Orang permintaannya baru tetangga sekitar. Jadi utilitas modal tinggi, penggunaaan modal menjadi efisien, perputaran uang pun cepat. Yang begini ini nih!

Itulah mengapa Adzan (gaya dikit ah) berani bisnis ISP internet provider. Dulu kita berani bisnis ISP karena kita sudah ada "modal" 10 warnet lebih plus warnet-warnet rekanan yang siap berlangganan dengan kita. Dan saat itu kita sedang mengarahkan rudal-rudal marketing kita ke corporate.

Semoga tulisan ini menjawab pertanyaan2 seperti
"Mau bisnis apa ya.."
"Mulai darimana ya.."
"Gak punya modal nih.."

Atau menjawab pertanyaan2 seperti
"Kok bisnis si A bisa ancur ya, padahal kan dia dekat dengan suplier nya blablabla..."

Karena informasi tentang permintaan itu yang "mahal"

Kalo kita udah tau info tentang kebutuhan suatu produk barang/jasa, dengan mudah kita mencari calon suplier2 kita. Bisnis kita pun sudah hampir bisa dipastikan untung.

Nah nanti kalo permintaan sudah menjadi banyak, pasti urusan produksi dan keuangan bisa menyesuaikan dengan sendirinya. Produksi bisa di outsource, keuangan bisa ke bank. wong ada permintaan ya ga

Beda klo dari awal kita mentingin produksi. Permintaan belum tentu ada. Akhirnya gulung tikar deh karena produk kita ga ada yang beli. Sementara overhead tinggi

Sekali lagi mohon dicatat
(sebenernya ini pesen buat diri sendiri yang juga sering kegelincir disini)

Jangan silau dengan aspek Produksi!
Tapi pastikan Permintaan!

Smoga bisa mengubah mindset kita, bahwa bisnis itu gak perlu modal uang besar. Karena diri kita sendiri lah modal terbesar. Perbanyak silaturahmi, jaga amanah.

Smoga berguna

---

Nah salah satu hikmah bisnis di RK adalah, pola kepemimpinan saya berubah dari yang asalnya top down (bikin visi misi, sibuk rapihin administrasi, struktur organisasi) menjadi bottom up (fokus ngejar omset dulu, karena cashflow ibarat darahnya perusahaan).

Dan ternyata hasilnya, alhamdulillah berhasil, walau jumlahnya baru bisa buat beli sepatu pantofel doang :D

Terakhir, kalo mau yang sedikit ilmiah, temen2 bisa baca tulisan dari dosen favorit saya, Pak Yudi Pram yang judulnya Strategy During Infant Period

Gambar dari sini

Kamis, 11 September 2008

RAMADHAN #10


Di mata orang biasa, sedekah hanya "layak" dikeluarkan jika isi dompet sedang tebal atau sebatas uang recehan. Kalau otak lagi mumet mikirin utang, "Jangankan sedekah, makan aja susah," protes mereka seirama. Makanya, aneh bin ajaib, ketika Yusuf Mansur - ustad muda yang akhir-akhir ini rajin muncul di layar gelas - menganjurkan lebih banyak sedekah justru di saat hidup sedang susah.

 
Yusuf Mansur duduk bersila di kerumunan ratusan karyawan sebuah perusahaan. "Ustad, kali ini saya ingin tema tausiyahnya tidak tentang sedekah," pinta seorang panitia, yang juga salah satu petinggi perusahaan. Rupanya, panitia itu hendak berempati kepada karyawannya. Seperti negeri ini yang sering dirundung duka, perusahaannya juga sedang "KD" (kurang darah). Menurut si panitia, khalayak yang hadir sebagian besar buruh, seharusnya diberi sedekah, bukan dianjurkan bersedekah.

Yusuf Mansur - pemilik pondok pesantren Daarul Qur'an, Ciledug, Tangerang - keruan berang. Sedekah kok diidentikkan dengan status sosial ekonomi. Orang miskin yang ingin kaya juga harus sedekah. "Guru ngaji saya bilang, kalau habis gajian bersedekah, atau orang yang bisnisnya gol bersedekah, itu sih biasa. Tapi sedekah sebelum gajian, saat punya sedikit duit, atau sebelum memulai usaha, itu baru istimewa," sang ustad meradang.

Ia menambahkan, materi yang bisa disedekahkan tidak harus berwujud uang. "Bisa pakaian, makanan. Atau kalau di rumah ada teve berukuran 29 inci, 'kan masih bisa 'dikecilin' jadi 14 inci?"sambung pria kelahiran Jakarta, 19 Desember 1976 ini. Jadi, tidak ada yang tidak dapat disedekahkan oleh orang termiskin di dunia sekalipun, sepanjang niat bersedekah itu ada.


Belajar dari semut

Mengikuti jejak K.H. Zainuddin MZ yang tenar sebagai da'i sejuta umat, Aa Gym da'i "sejuta hati", atau ustad Arifin Ilham yang identik dengan majelis zikir, nama Yusuf Mansur belakangan beken sebagai da'i penganjur sedekah. Dalam setiap tausiyahnya, penulis 30-an buku ini selalu mendengungkan kekuatan sedekah.

Tema sedekah - dihubungkan dengan pemberdayaan ekonomi umat - tampak mulai mendapat tempat di hati masyarakat. Penceramah jebolan IAIN Syarif Hidayatullah, Ciputat ("Ane enggak punya ijazah, brenti waktu nyusun skripsi," katanya buka kartu dalam logat Betawi kental) ini pun laris bak kacang goreng. "Bulan ini (Agustus 2006 - Red.), enggak ada hari tanpa tausiyah. Satu hari bisa lima sampai enam tempat," aku seorang stafnya.

Yusuf kian identik dengan sedekah, setelah bareng rumah produksi Sinemart menggagas sinetron Maha Kasih. Sinetron yang ditayangkan sebuah stasiun teve swasta itu diangkat berdasarkan kisah nyata dan sarat pesan hikmah sedekah. Yusuf juga pernah menjadi Duta Dompet Dhuafa dan Duta Bank Muamalat. Tahun 1999 - 2000, Yusuf bahkan aktif di Majelis Syifa, yang mempraktikkan terapi sedekah untuk penyembuhan penyakit fisik.

Ceramah Yusuf terasa hidup, karena bapak dari dua orang anak ini selalu menyelipkan kisah nyata. Sekali waktu, ia berkisah tentang seorang buruh yang bersedekah Rp 5.000,- di sebuah acara tausiyah. Eh, begitu sampai di rumah, ada orang kaya numpang buang hajat di kamar mandinya. Setelah berhajat, musafir tadi menyerahkan Rp 50 ribu buat "jajan" anak si empunya rumah. "Pak ustad, sedekah saya dibalas 10 kali lipat hari itu juga," tutur sang buruh berkaca-kaca.

Yusuf juga fasih bertutur tentang kesaksian seorang office boy yang menyetor seluruh gaji pertamanya untuk ibunda tercinta. Esoknya, ia diganjar balasan setimpal, tak lebih tak kurang, Rp 600.000,-. Duit pengganti gaji itu didapatnya sebagai komisi jerih payah membantu menjualkan motor seorang teman. Setelah itu, selalu saja ada rezeki yang masuk ke kantung si office boy. Total jenderal di akhir bulan istimewa itu, ia "gajian" sampai Rp 5 juta - Rp 6 juta.

Kesaksian orang-orang yang pernah terbantu oleh sedekah itu ikut membentuk keyakinan Yusuf, bahwa kekuatan sedekah tidak main-main. Apalagi ia juga punya setori sendiri. Akhir 1990-an, selama beberapa bulan, Yusuf sempat merasakan pahitnya tinggal di rumah tahanan. Ia terbelit utang. "Pinjaman usaha yang mulanya sedikit, karena kebodohan saya, berbunga dan membengkak jadi lebih dari satu miliar. Orang Betawi bilang, bukan lagi gali lubang tutup lubang, tapi gali lubang tutup empang," ujar pemilik blog beradres wisatahati.multiply.com ini menerawang.

Saat dibekap kesulitan itulah, ia mengalami dua pengalaman luar biasa. "Di tahanan suatu kali saya merasa sangat lapar. Enggak ada makanan. Yang ada cuma sedikit sisa roti, saya simpan di bawah bantal. Tapi begitu roti mau saya makan, tampak semut berbaris di tembok sampai lantai. Saya merasakan itu sebagai pertanda alam, lalu teringat hadis, yang artinya kira-kira, Allah akan membantu hambanya, selama hamba itu mau membantu yang lain."

Tanpa pikir panjang, Yusuf menyerahkan sejumput roti itu pada gerombolan semut. Entah mengapa, ia begitu ingin bersedekah saat itu. "Lima menit kemudian, seorang sipir datang bertanya, 'Suf, udah makan apa belum?' Setengah percaya, saya menggelengkan kepala. Alhamdulillah, dalam hati saya tak putus-putusnya mengucap syukur," imbuh Yusuf.


Cuma laku lima

Pengalaman kedua, ketika baru keluar tahanan, sekitar tahun 1999. Untuk menyambung hidup, Yusuf terpaksa harus jualan es di terminal Kalideres, Jakarta Barat. Dengan modal Rp 20.000,-, ia mencoba membangun kehidupan baru. Setelah dipotong ongkos, sisa duit Rp 14.000,- digunakan untuk membuat 70 kantung es, yang dijajakan Rp 500,- per buah. "Bukan main, hari pertama, cuma laku lima," Yusuf tertawa lirih.

Ia betul-betul harus menekan ego dan kesombongan. Bayangkan, dari pengusaha yang memodali orang puluhan juta rupiah, "turun pangkat" jadi penjual es lima ratusan perak. "Saya menganggap semua itu sebagai penebusan dosa. Saya percaya, kesulitan hidup merupakan tebusan dosa yang pernah kita perbuat. Menikmati penderitaan itu ada ilmu dan seninya. Banyak manusia yang diberi kesusahan, karena ketika diberi kesenangan, enggak ingat sama Tuhan," pria berkacamata ini menambahkan.

Pelan tapi pasti, dengan "ilmu sedekah" yang didapatnya, hidup Yusuf bertambah baik. Sebelumnya, ia mengaku belajar ilmu sedekah sama seperti belajar ilmu-ilmu lain, sepintas saja. Tapi di masa sulit itu, ia belajar hal baru, yakni bersedekah jangan menunggu tabungan cukup, bisnis gol, atau gaji bersisa. Sedekah seperti lazimnya kecil, tipis, sehingga tidak "bertenaga".

"Pengalaman saya tadi, buat orang lain mungkin biasa. Tapi buat saya, luar biasa, karena saya telah membuktikan sendiri kekuatan sedekah."

Berhasil pada diri sendiri, dengan keyakinan penuh, Yusuf mulai berdakwah tentang sedekah. Dia bertekad menyebarluaskan the power of sedekah untuk memberdayakan ekonomi umat. Awalnya, tentu saja enggak laku. Tapi makin lama, makin banyak orang melihat, Yusuf ternyata tak hanya pandai berteori. Buktinya, ia berhasil membangun sekolah tinggi ilmu komputer Cipta Karya Informatika di bilangan Jakarta Timur, yang sudah beroperasi empat tahun.

Undangan tausiyah pun menumpuk. Kali ini tak hanya dari individu dan masyarakat. Yusuf pun mulai dilirik korporat untuk memberi motivasi, pencerahan, mengadakan spiritual gathering, dan financial healing. Dialah yang memperkenalkan sedekah secara korporat. Misalnya, dalam setahun sebuah perusahaan menghasilkan laba bersih sekian miliar. Nah, dari jumlah sekian miliar itu 10%-nya bisa disedekahkan.

"Sedekah yang dilakukan 'di muka', menurut Yusuf, akan menjadi bill of insurance, tagihan yang sudah diasuransikan duluan, untuk menjamin berhasilnya tujuan perusahaan. Di sini saya banyak ditentang, dibilang terlalu pamrih pada Tuhan. Tapi masa bodoh, yang enggak yakin atau enggak mau ikut enggak apa-apa. Saya juga enggak ambil sedekahnya kok. Korporat itu bebas sedekah ke mana saja. Yang penting bersedekah," cetus da'i yang tausiahnya sudah merambah sampai ke Singapura ini.

Yusuf berharap, jika kebiasaan bersedekah kian marak di kalangan masyarakat dan korporat, bangsa ini akan ikut diuntungkan. Karena kepedulian pada nasib sesama jadi lebih besar. "Dalam peningkatan ekonomi, yang penting aplikasinya. Financial freedom tidak bisa didapat tanpa spiritual freedom, begitu juga sebaliknya," tandas ustad yang mengaku tak pernah menyediakan waktu khusus untuk menjaga kebugaran ini.


Buang jauh logika

Untuk mereka yang ingin meningkatkan taraf kehidupan (secara materi), bilang Yusuf, obat yang paling manjur yaitu bersedekah materi. "Kalau kita bersedekah bukan materi (dengan doa, membantu dengan tenaga, dan sejenisnya), dapatnya juga non-materi, semisal kesehatan, kegembiraan. Tapi itu 'kan tidak langsung mengubah eksternal seseorang, seperti pendapatan," imbuh sang ustad.

Namun, ia cepat menambahkan, hak Yang Di Atas untuk mengganjar sedekah seseorang dengan apa pun. Karena pada dasarnya, selain mendatangkan materi, sedekah juga memberi jalan menuju sukses (lewat kemudahan membangun dan mengembangkan usaha), mendatangkan kesehatan, menolak bala, mendatangkan ampunan dan pertolongan-Nya.

Sebenarnya, aku Yusuf, manusia tidak boleh terus-menerus bermain sedekah di tataran keinginan atau masalah. Kelak harus jadi hamba-Nya yang lebih cerdas, naik pangkat ke tahap cinta Allah, atau mahabbah. Tapi sebagai pintu pertama, mengharap sesuatu dari sedekah enggak masalah. "Toh tidak diharamkan, asal jangan berhenti sampai di situ. Begitu keinginan terjawab, lalu lupa daratan," jelas pria yang menargetkan berdirinya Sekolah Islam Internasional gratis tahun 2008 nanti.

Terakhir dan paling penting, Yusuf mewanti-wanti, "Sedekah itu jangan dipikirin, karena enggak akan nyambung dengan otak. Secara logika, makin banyak sedekah 'kan makin ngurangin harta. Jadi, buang jauh logika ketika ngomongin sedekah!" Yusuf mengilustrasikan, seorang karyawan yang "pakai otak", sudah dapat ditebak berapa total gajinya saat pensiun. Tapi kalau dia rajin bersedekah sampai mentok (baca boks "Matematika Sampai Mentok"), bisa saja dia pensiun sebagai direktur!

Makanya, jangan takut bersedekah sebelum gajian

Artikel Terkait :

Rabu, 10 September 2008

RAMADHAN #9

Saya mau ngobrolin makanan, khususnya tentang masakan padang. Mudah2an ngga pada ngiler ya :)

Sesuai dugaan, makin kesini RK makin dipercaya sebagai tempat berbuka puasa bersama oleh pelanggan setia kami.

Apalagi dengan bertambahnya meja dan kursi, jelas kesibukan makin tinggi. Apalagi di bulan ramadhan ini kami ngga nambah pegawai. Pengen ngetes, sejauh mana titik maksimal kinerja kami saat ini.

Bagi (segelintir) teman yang kagum melihat saya turun langsung melayani pelanggan, biasa aja kaleee...

Ini mah ya karena emang ga ada lagi pegawai. Sama sekali bukan karena saya ini rendah hati, down to earth dan sebagainya, jangan tertipu ya hehehe...

Nah biasanya jam 8 malem, kesibukan sudah mereda.

Karena lapar (pas buka baru minum teh botol doang) Maka saya pun kepikiran untuk memuliakan diri. Manja ya, baru kerja bentar udah mau memuliakan diri lagi hehehe...

Yang terpikir adalah gulai kepala kakap khas Rumah Makan Padang Sederhana (RMPS) yang logonya SA.

Buat temen2 deket saya, pasti tau kalo saya paling anti makanan pedes. Soalnya dari kecil saya dididik sama ortu seperti itu. Hasilnya, kalo ngegigit cabe rawit walau cuma seiris, bisa nangis mata saya.

Nah kok bisa saya seneng makanan padang yang dikenal pedes.

Sejarahnya adalah saat saya diajak kakek jalan2 ke jakarta dan mampir di RMPS. Karena terpaksa (masa harus protes ke kakek sendiri) maka saya pun milih menu yg ga pedes disana.

Saya direkomendasiin buat milih Gulai Kepala Kakap (yg ternyata menu termahal disana).



Ekspektasi saya ga gitu tinggi. Namanya juga makanan padang. Paling gitu2 doang, pikir saya.

Tapi setelah mulai menyuap dagingnya yang putih tebal disertai kuah yang kuning muda, rasanya wuiiiih muaaaaknyuuuussss uenak beneeeer !!! (Heh lagi shaum, jangan ngiler)

Daging ikannya mudah lepas dari tulang, ga amis, dan kuahnya sangat spicy. Benar2 resep dewa hahaha...

Kembali ke laptop.

Sambil melamun di RK, saya coba2 nginget, dimana ya RMPS terdekat. Oh di Jl.Riau. Sambil keroncongan, saya pun membonceng teman saya. Kami meluncur ke sana.

Pas sampe, ekspektasi kami sudah di puncak. Tapi saat baru saja masuk dan meminta menu dewa tersebut pada pegawainya, ternyata gulai kepala kakap sudah habis sodara2 !!!

Fiuuh, ga boleh lama2 kecewa. Kami pun inget kalo lurus terus, di Jln.Pelajar Pejuang ada restoran yang mirip, namanya Sederhana Bintaro, yang logonya SB. Dulu saya pernah nyoba, dan rasanya ga beda jauh.

Motor pun saya kebut. Suasana makin kalap, kalaparan :D

Dan kami pun sampai. Pintu rumah makan kami buka, dan pertanyaan yg sama kami ajukan ke pegawainya.

Ada gulai kepala kakap? Kata saya
Ada ! Kata pegawainya
Cihuy, alhamdulillah ! Kata saya dalam hati
Ya udah mesen dua porsi, Kata temen saya

Dan jawaban yang tidak diduga2 pun muncul

Maaf pak gulai kepala kakapnya tinggal satu, masih mau? Katanya pegawainya polos

Saya saling berpandangan dengan teman saya. Dan menyadari bahwa masing2 kami bukanlah orang yang cukup dermawan untuk berbagi makanan. Dan kami pun keluar, membatalkan pesanan sambil tercenung.

Untung tercenungnya ga lama, karena setau saya dideket sini ada juga restoran padang megah dengan embel2 merek Sederhana juga. Inisialnya MSP. Ada di prapatan Pelajar Pejuang-Lodaya.

Setau saya, restoran ini udah buka beberapa bulan, tapi kok walau megah masih sepi juga tiap saya lewat.

Tapi sudahlah, ga penting ngurusin bisnis orang. Mending sibuk ngurusin bisnis sendiri.

Kamipun masuk. Dan alhamdulillah, horeeeee, menu-nya ada!

Kami duduk di pojokan, yang kursinya empuk. Tak lama pesanan datang.

Weeeh, gede euy kepala kakapnya. Emosi memuncak, karena lapar. Dan tangan saya pun langsung bergerak menyendok kuahnya sambil mengambil dagingnya.

Suapan pertama pun masuk.

Dan tebak sodara2, saya kecewaaaaa wa wa wa !!!

Dagingnya keras, masih ada tulang, anyir, dan yg parah kuahnya pedes.

Fiuuuh karena ini bulan ramadhan, untung saya cepet sadar. Di satu sisi saya kecewa, tapi di sisi lain saya kasihan kepada owner rumah makan ini.

Investnya udah gila2an, interior dan eksteriornya megah banget. Mungkin ada kali invest sekitar 4 milyar mah. Tapi inti bisnisnya, yaitu makanan enak, sayangnya malah terlupakan.

Makanan tetep saya habiskan. Dan pas membayar tagihan, kami pun memberi masukan kepada pegawainya, sambil nitip pesen agar disampaikan ke bosnya.

Yah, sebagai sesama pengusaha, sebuah profesi yg jarang dipilih orang, tentu saya pun berharap agar kami bisa sama2 sukses. Amiiin

Artikel terkait
- Pada Mulanya Memang Sederhana by Majalah Gatra
- Ekspansi Gaya RM Sederhana Bintaro by Majalah Swa
- Dasar Padang Geblek by MTA

Foto diambil dari sini

Selasa, 09 September 2008

RAMADHAN #8

Hari ke 8 ini saya istirahat di rumah sampe ashar.

Tapi alhamdulillah, tetep ada hikmah yang didapatkan.

Di bulan ramadhan ini, biasanya amal2 kita secara kuantitas melejit drastis dibanding bulan2 sebelumnya.

Tapi tentu saja, syarat pertama agar amal2 tersebut diterima adalah niatnya ikhlas. Alias bukan diniatkan untuk mendapat penghargaan dari selain Allah (riya).

Nah, mari kita ambil contoh dengan salah satu amal yang cukup populer di bulan ini. Yaitu sedekah. Amalan yang membuat para malaikat mendoakan kita pagi dan petang.


Misalkan, kita sedang mendengarkan ceramah jumat. Disana khatib mengingatkan kita bahwa

"Barangsiapa yang memudahkan urusan orang lain, maka Allah akan mudahkan urusannya, di dunia maupun akhirat"

"Kita belum disebut mencintai Allah, jika belum menginfaq-an apa yg kita cintai, diantara ciri cinta adalah berat untuk dilepaskan"

Nah beres jumatan, di gerbang ada fakir miskin usia manula yang sepintas sih sangat layak untuk diberi. Karena pengen mendapat cinta Allah, kita pun ga pengen ngasih cuman recehan doang, kita pengen ngasih RP.10 ribu, misalnya.

Nah saat kita mulai mendekat, dan uang dikeluarkan dari saku. Biasanya radar akan bekerja. Lirik kanan kiri. Waspada, takut ada yang ngeliat (padahal, abis jumatan kan rame, ya pastilah ada yg ngeliat).

Dengan sedikit bergetar, kita pun menyerahkan uang Rp.10 ribu tersebut. Dan karena mungkin kaget saking senangnya. Bapak Pengemis tadi mendadak berterimakasih sambil memegang tangan kita dan mendoakan kita panjang lebar dengan suara kencang.

Otomatis dong, kita langsung menjadi pusat perhatian disana.

Bibit2 riya pun mulai menjalar. Mulai merasa bangga. Mulai merasa dermawan. Mulai merasa hebat.

Nah, bagaimana tipsnya agar di posisi kritis seperti ini, kita bisa (insya Allah) tetep ikhlas?

Caranya adalah : DENGAN MENGANGGAP AMAL SHALEH TERSEBUT, SEBAGAI REZEKI DARI ALLAH

Gini, 50 ribu tahun sebelum diciptakan, Allah sudah menetapkan bahwa sang bapak pengemis pada hari anu jam anu di tempat anu akan mendapatkan uang Rp.10 ribu.

Nah, artinya pada saat itu, siapa saja bisa menjadi jalan rezeki buat dia dong. Ga cuma kita doang.

Sekarang mari kita cermati
- Siapa yang menggerakkan hati kita buat jumatan di mesjid itu?
- Siapa yang menggerakkan lisan penceramah buat ceramah materi itu?
- Siapa yang menyelusupkan materi tersebut ke hati kita?
- Siapa yang menolehkan pandangan kita ke sang bapak pengemis?
- Siapa yang membuat ada uang pas Rp.10 ribu di kantong kita?

Jadi, sebenernya hari itu sang bapak pengemis udah pasti dapet Rp.10 ribu.

Masalahnya, kok dari ratusan peserta jumatan, Allah milih kita agar bisa beramal shaleh dengan bersedekah ke beliau?

Bukankah ini rezeki?

Banyak yg lebih kaya, banyak yang lebih sholeh, tapi yang dipilih sama Allah malahan kita.

Jadi, kalo bisa beramal shaleh, ga perlu riya.

Bersyukurlah, karena bisa dipilih buat beramal shaleh, adalah rezeki dari Allah.

Bukan begitu?

NB :
Doa ketika dipuji orang

ALLAHUMMA LAA TU AAKHIDZNII BIMAA YAQUULUUN, WAGHFIRLII MAA LAA YA'LAMUUN (WAJ'ALNII KHOIROMIMMAA YAZHUNNUUN)

Ya Allah, semoga Engkau tidak menghukumku karena apa yang mereka katakann, ampunilah aku atas apa yang tidak mereka ketahui (dan jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka perkirakan).

HR. Bukhori no.761

Senin, 08 September 2008

RAMADHAN #7


Inti tulisan ini sebenernya tentang domba guling, tapi tetep dong harus ada prolognya.

Ok lets begin...

Alhamdulillah hari ini RK kedatangan tim Rumah Ilmu Indonesia yang dikomandani Kang Reza Ervani.

Sebenarnya saya udah tahu nama beliau dari sekitar 2 tahun yang lalu. Tapi kenalnya terbatas. Yaitu melalui artikel2nya yang pendek tapi (saya yakin) merupakan saripati dari banyak buku.

Intinya sih, saya kenal dia, dia ga kenal saya :P

Yang lucu, komunikasi kami terjalin baru kemaren2. Dan itupun lewat YM. Intinya sih beliau mau reservasi, tapi karena (mungkin) kurang yakin, beliau pun menelepon saya.

Weih, pas ditelepon suaranya menyeramkan, berat2 gitu deh. Dan singkat cerita, akhirnya kami pun deal. Beliau minta 25 kursi untuk berbuka di RK.

Beberapa jam sebelum berbuka, beliau ngirim SMS meminta kesediaan saya untuk sharing mengenai kisah bisnis yang baru 5 bulan saya jalani.

Sayang sekali, sebenarnya saya bersedia, tapi masalahnya hari ini ada Forum TDA Bandung yang sudah direncanakan jauh2 hari. Dengan berat hati saya pun meminta maaf karena tidak dapat memenuhi permintaan beliau.

Di Forum TDA Bandung, tim Republik Kuliner alhamdulillah bisa bersinergi dengan tim Villa Domba asuhan Kang Agus Ramada. Kerjasamanya adalah, tim VD akan mengirimkan seekor domba muda secara GRATIS untuk dibumbui dan dimasak domba guling oleh tim RK.

Sebenernya saya nekad memenuhi permintaan Kang Agus. Karena pertama, tim RK belum pernah sekalipun masak domba guling. Dan kedua, tim RK sama sekali ga punya alat penggulingannya ;)

Bukan entrepreneur namanya kalo menyerah pada keadaan. Apalagi ini kan aktivitas tolong menolong dalam ketaqwaan (menjamu yg berbuka) maka harus diikhtiarkan maksimal dong.

Untuk solusi pertama, saya tanya satu persatu koki RK yang berjumlah 4 orang, uhuy, ternyata ada yang pernah masak domba guling pas dia kerja di tempat sebelum RK.

Masalahnya, cara masak domba guling biar enak adalah si dombanya disiram dulu dengan bir, baru dimasak. Parah!

Kami pun putar akal. Dan alhamdulillah (walau nekad) kami akan mencoba bagaimana bila si domba bukan disiram bir, tapi disiram dengan saus madu lemon. Terus setelah meresap dan masak, daging domba disayat tipis dan disajikan dengan saus BBQ khas RK. Eng ing eng...

Untuk solusi kedua, alhamdulillah saya pernah lewat sebuah warung sate kambing, dan disana dia juga menyediakan menu domba guling. Saya pikir, pasti dia menyewakan alatnya juga dong. Dan ternyata memang benar, alatnya bisa dirental secara harian. Fiuuuh lega...



Nah, it's show time, domba mulai disirami bumbu sambil diguling2 sementara peserta Forum TDA Bandung masih asyik menikmati sajian mengenai kiat bisnis kue kering yang denger2 omsetnya bisa 2 milyar perbulan. Subhanallah...

Adzan berkumandang, dan setelah sholat berjamaah, peserta pun mulai menyerbu stan domba guling. Tegang abis. Takut ga enak lah, takut peserta kecewa lah, dan sebagainya.

Alhamdulillah ketegangan dengan cepat mereda setelah melihat peserta nampak puas dengan sajian kami. Apalagi dagingnya dikasih saus BBQ khas RK, makin ketagihan deh.

Bahkan, kata koki kami, ada yang 4 kali bolak balik ngambil daging. Entah siapa gerangan :P

Saya penasaran dan mencoba sendiri. Ternyata emang bener, dagingnya empuk dan juicy. Artinya nge-gulinggin dombanya pas, dan lebih khusus lagi, si dombanya emang kualitas nomer wahid.

Salut buat Kang Agus yang sukses mendidik domba2nya sehingga empuk2 gini. Hahaha...

Yah demikian laporan dari saya, artikel terkait bisa dilihat di
- Silaturahim Dengan Ina Cookies by Mas Adzan Wahyu
- Forum TDA Bandung September 2008 by Ibu Leny Puspa
- Buka Puasa Bareng Rumah Ilmu by Kang Reza Ervani

Sabtu, 06 September 2008

RAMADHAN #6

Tidak disangka2, Alhamdulillah, tadi malam RK membukukan rekor tertinggi selama bulan Ramadhan ini. Di satu sisi patut disyukuri, namun disisi lain ini merupakan ujian dari Allah.

Apakah dgn kemudahan ini kami makin dekat ke Allah?
Apakah dgn kemudahan ini kinerja kami meningkat?
Apakah dgn kemudahan ini kami makin rajin berbagi buat sesama?

Malamnya RK kedatangan tamu yaitu adik kelas saya, baik yang se-SMA maupun yang se-Kampus. Dan saya pun mendadak merasa remaja kembali, hehehe...

Selepas obrolan, saya merenung ke masa saat saya masih seusia mereka.

Hal2 yang dulu saya lakukan ternyata adalah bentuk latihan2 dari Allah buat saya agar siap dengan kondisi sekarang.

Misalnya:
- Kalo capek, udah biasa karena dulu juga sempet ngalamin, dan pasti akan ada saatnya santai
- Kalo sepi, udah biasa karena dulu juga sempet ngalamin, dan pasti akan ada saatnya rame
- Kalo rugi, udah biasa karena dulu juga sempet ngalamin, dan pasti akan ada saatnya untung

Alhamdulillah, semoga bisa diambil hikmahnya...

Oya, ini gambar pas RK lagi sepi, cuman 1 konsumen di ujung :D

Artikel Terkait :
- Pidato Steve Jobs di acara wisuda Stanford University