Sabtu, 06 September 2008

RAMADHAN #5


Temen2 masih inget cerita saya tentang tarawih for kids?

Kalo tahun lalu saya terlibat sebagai panitianya, tahun ini saya nekad memberanikan diri sebagai salah satu pengisi materinya.

Selain karena kesibukan bisnis yang menyebabkan saya ga bisa aktif jadi panitia, saya juga pengen belajar, gimana sih caranya menyampaikan materi yang bisa membuat anak usia TK dan SD tertarik dan membuat mereka mudah untuk mencernanya.

Oleh panitia, saya diamanahi untuk menyampaikan materi tentang surga.

Karena saya pikir, imajinasi anak usia segini lagi bagus2nya, maka saya pun menyajikannya hanya dalam bentuk teks di powerpoint. Agar di setiap slide, saya bisa eksplorasi mereka dengan imajinasinya masing2.

Kurang lebih, inilah materi yang saya sampaikan :

SURGA ITU INDAH LHO, MARI KITA MASUK SAMA2 LEWAT PINTUNYA
- Ada pohon yang besar dan rindang
- Ada buah2an yang banyak jenisnya dan ga abis2
- Ada daging yang bisa langsung dimakan
- Ada sungai yang bisa langsung diminum
- Ada tempat duduk yang dihiasi emas dan permata
- Ada kasur yang tebal dan empuk banget
- Ada bidadari yang matanya jernih laksana mutiara
- Di surga semuanya muda

SIAPA YANG MAU TAU GIMANA CARA NGEBUKA PINTU SURGA?
- Pintu sholat akan terbuka buat yang rajin sholat
- Pintu jihad akan terbuka buat yang membela agama ISlam
- Pintu sedekah akan terbuka buat yang rajin nolong sesama
- Pintu puasa akan terbuka buat yang rajin puasa

Oya hampir lupa, mayoritas materi diambil dari Quran Surat Al Waqi'ah yang dengan detail menggambarkan tentang surga dan neraka.

Alhamdulillah, materi bisa disampaikan dengan lancar. Walau sebagai dampaknya, badan saya basah oleh keringat dan tenggorokan kering kerontang karena menghadapi serbuan pertanyaan dan komentar yang tiada habisnya.

ABCDEF, Aih Bo Cape Deh Eyke Fiuhh....

Kamis, 04 September 2008

RAMADHAN #4


Hari ini alhamdulillah meubel datang ke RK, dini hari langsung dari cirebon.

Walau patut disyukuri, tetep aja ada hal2 yang lumayan bikin bete diantaranya
- Harusnya datang sebelum ramadhan, nyatanya H+3
- Harusnya datang 40 kursi dan 10 meja, nyatanya cuma dateng kursi doang
- Harusnya rotan warna gelap, ini malah warna cerah
- Harusnya jok warna hitam, eh malahan warna krem yang gampang terlihat kotor

Saya belum tau akan ada tindakan apa, karena ini jelas menyalahi deal, dan harus ada sanksinya.

Yah daripada ngubek2 disini, lebih baik ganti topik.

Kalo tahun lalu saya terpukau dengan seorang teman yang menargetkan hafal 3 juz selama bulan ramadhan, tahun ini saya ketemu dengan yang (insya Allah) lebih dahsyat lagi.

Bayangkan, dia khatam 20 kali pas ramadhan tahun lalu. Oya, ngomong2 dia ga pake baju koko lho, sehari2 dia pake T Shirt merek sebuah clothing beken di Bandung. Profesinya entrepreneur di bidang fashion.

"Kok bisa?" Tanya saya keheranan

Dengan santai dia menjawab, "Saya mah eksperimen aja gah, kalo biasa ngaji 3 lembar, saya coba tambah jadi 4 lembar, pas udah 4 lembar, saya coba jadi 5 lembar, dan seterusnya"

Sambil tersenyum malu saya mengingat2 kejadian hari ini.

Baca Quran cuman sedikit, tapi 4 jilid komik samurai-X dilalap habis dalam sekejap, hehehe...

Semoga bisa diambil hikmahnya

Rabu, 03 September 2008

RAMADHAN #3

Makin kesini, hidup saya makin berwarna. Khususnya dalam hal pergaulan.

Dulu, terkait bulan ramadhan, saya hanya mengenal dua tipe orang yaitu mereka yang puasa dan mereka yang tidak.

Namun sekarang, yang puasa pun bisa dibagi lagi menjadi beberapa tipe, begitupun yang tidak.

Nah ada yang lucu, selama saya nongkrong di RK, otomatis disengaja maupun tidak saya menjadi pengamat perilaku para pelanggan. Bahkan tidak sekadar mengamati, kadang saya pun mengobrol dengan mereka.

Diantara momen2 yang menurut saya lucu adalah
- Orang yang rajin sahur, tapi sholat shubuhnya bablas
- Orang yang sibuk berbuka puasa, tapi engga sholat maghrib

Eh ini beneran lucu lho, saya bukannya mau menghakimi. Karena kalo saya tilik sih, biasanya para pemeran dua kasus diatas adalah orang2 yang polos, dan mungkin belum nyampe ilmunya.

Yang lebih lucu lagi adalah orang yang tamat puasa 30 hari, tapi pas malem takbiran mabok miras sampe pagi bersama temen2nya :D

Ga usah jauh2, contohnya tim RK.

Kami semua insya Allah puasa. Nah tapi pas jam berbuka -yg notabene sibuk banget- hanya tim depan yang selalu menyempatkan untuk sholat maghrib. Tim belakang alias dapur mah bablas semuanya.

Diingatkan sudah, disuruh gantian sudah, tapi yah tetep aja ga sholat2.

Dulu saya sempet tertekan, karena toh kepemimpinan saya akan dipertanggungjawabkan. Tapi setelah menganggap semua ini adalah proses, saya jadi lebih santai. Insya Allah akan ada waktunya mereka mulai tergerak, cuman perlu sabar aja.

Kesimpulan saya, diantara tim dapur itu beda2 latar belakangnya
- Ada yang ga ngerti tatacara sholat
- Ada yang ga ngerti manfaat sholat
- Ada yang ngerti 22nya, tapi masih perlu alasan yg lebih kuat lagi

Ada kasus menarik tadi malam. Walau bukan tentang sholat sih.

Gini, di tim dapur ada yang istrinya lagi hamil muda anak pertama, penganten baru, namanya Tugi, posisinya koki.

Manajer RK, Kang Agus ngomong ke Tugi "Gi kalo kamu mau anak kamu lancar rezekinya, jadi anak yang sholeh, coba baca Quran 2 juz sehari"

Tugi sang penganten baru dengan wajah berseri2 nanya "Wah gitu ya pak, kalo bacanya gantian sama istri boleh engga?"

Dengan mantap dijawab oleh Kang Agus "Boleh !"

Nah memang ini gaya dakwah yang jauh berbeda dengan gaya2 ala kampus.

Buat wong cilik seperti ini, dakwah yang disampaikan harus berdampak kongkrit ke hidup mereka, ekstrimnya mah harus dibuat agak2 mistik, padahal sebenernya emang ada tuntunannya dalam agama.

Kayak dulu PRT di rumah kami, Bi Ai mengalami stress berat karena kata kakaknya di kampung, ada lelaki yang nyantet Bi Ai karena ditolak cintanya.

Itumah beliau di rumah saya sampe nangis2, sesenggukan, parah lah pokoknya!

Sampe2 beliau minta pulang dulu, karena disuruh kakaknya ketemu pak kiai, yang kalo saya tilik2 terapi menangkal santetnya sih ga ada bedanya sama dukun.

Lalu, sayapun bereksperimen, kan di hadits bukhari dicontoin tuh, bahwa Rasulullah SAW pernah menyembuhkan seseorang dengan air putih yang dibacakan Al Fatihah. Saya pun melakukannya.

Saya masukan tuh air ke dalam botol plastik. Dan saya serahkan sama Bi Ai sambil berinstruksi dengan mimik serius.

"Bi, minum air ini, udah Agah kasih babacaan, insya Allah santetnya ga bakal mempan"

Beliau yang udah beberapa hari ini nangis melulu, mendadak cerah wajahnya, ekspresinya menjadi berseri2. Dan mengucapkan terimakasih berkali2 kepada saya.

Sejak saat itulah, nama saya menjadi Kiai Agah :D

NB :
- RK mulai merangkak naik omsetnya hari ini, alhamdulillah

- Pas buka, karena meubel belum dateng aja, banyak pelanggan yang ga jadi makan karena ga bisa duduk. Yah belum rezeki kali ya...


- Terimakasih buat temen2 blogger bandung yang ga bosen2 makan di tempat kami. Saya doakan semoga kalian saling berjodoh sesama blogger :P

Senin, 01 September 2008

RAMADHAN #2

Ini hari pertama RK buka di bulan ramadhan. Banyak kekhawatiran, banyak ketakutan yang membayang2 di pikiran.

Takut terlalu rame
Takut pelanggan ga terlayani
Takut sibuk sampe ga bisa buka puasa
Takut ini, takut itu, dsb...

Tapi cuman takut doang ga bakal bikin tenteram pikiran. Harus action, jangan cuman mikir melulu.

Maka hari ini pun dimulai dengan beberapa rencana aktivitas seperti

- Meubel dateng dari cirebon sebanyak 10 set
- Bikin nomer meja ala ID card
- Ngeprint buku menu versi tes botol sosro
- Beli piring dan sendok

Ternyata cuma dua poin terbawah yang berjalan lancar. Sisanya tertunda karena satu dan lain hal.

Oya, alhamdulillah hikmah karena kepepet. Tadi siang saya menemukan tempat ngeprint yang lokasinya agak nyumput, tapi ternyata dia sudah menempati 3 bangunan ruko sekaligus!!!

Oh, ternyata perusahaan ini termasuk silent player. Karena walau setau saya ga beken, pas saya masuk, mesin printing skala gede-nya berjumlah lebih dari 15 unit. Padahal 1 unitnya bisa diatas 100 juta. Ck ck ck...

Feeling saya, konsumennya bukan retail, tapi korporasi dan grosiran. Yang total transaksi perharinya bisa ratusan juta. Subhanallah...

Sambil nunggu print-an buku menu yang biayanya ditanggung penuh sama sosro, saya pun meluncur ke sekitaran kalipah apo buat beli alat2 dapur.

Biasanya, orang2 pergi ke salah satu toko beken disana. Karena harganya terkenal murah dan barangnya lengkap.

Tapi saya beda, saya ga milih si toko beken karena udah ada langganan toko lain di jalan yg sama. Selain harganya lebih murah dari si toko beken, barang yang dibeli bisa langsung diantar ke RK. Saya beli 10 lusin piring dan 4 lusin sendok gagang kayu disana.

Abis mengerjakan 2 hal tadi, sayapun ke RK. Sudah sekitar jam 5, pelanggan mulai menyerbu. Diantaranya menanti berbuka sambil berhotspot ria.

Dan adzan pun berkumandang, kondisi RK hiruk pikuk saking penuhnya.

Kesibukan memuncak, waiter bergerak kesana kemari, koki sibuk memotong, merebus, menggoreng, menumis, agar menu bisa cepat tersaji.

Alhamdulillah, ternyata kesibukan secara drastis menurun temponya dalam 30 menit. Sehingga kami pun bisa mulai bergantian untuk sholat maghrib.

Oya, saya ga tarawih di masjid karena memilih stand by di RK. Tapi hikmahnya, ada temen sekampus yang ngajak diskusi via YM tentang 'menikah karena Allah'.

Dia bilang 'menikah karena Allah' itu sulit abis karena bertentangan dengan hawa nafsu kita. Contohnya kita pengen yang sholehah, padahal sebenernya lebih pengen sama yang cantik.

Saya ga sepenuhnya setuju, karena keinginan untuk nikah sama yang cantik pun datangnya dari Allah juga. Emang yang cantik bakalan masuk neraka? Sehingga kita ga boleh nikah sama yang cantik.

Lagipula cantik itu beda standarnya, kayak saya misalnya. Bagi saya wanita tercantik di sekitar saya itu ada dua, yaitu mamah sama adik saya. Jadi kalo saya nyari istri, wajar kalo dibandingkan sama mereka berdua.

Diskusi terhenti karena YM kami sering disconnect. Dan daripada bete, saya pun memutuskan pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah, HP bergetar, ada SMS masuk

Ternyata dari adik kelas saya di SMA. Katanya, mantan pacar dia masuk rumah sakit karena mikirin dia terus. Stress sehingga jadi gejala tifus. Dia yang udah ga mau pacaran lagi minta saran, baiknya gimana.

Dalam hati saya berkata 'Cieeeh gaya bener anak muda jaman sekarang, jatuh cinta sampe masuk rumah sakit bo!'

Maka SMSnya pun saya jawab, isinya agar dia menjenguk mantan pacarnya. Tapi jangan sendirian, ajak temen.

Pas udah nyampe 'Hiburlah mantan pacarmu' kata saya

Terus... ingatkan bahwa sakitnya dia ini karena Allah cinta sama dia. Dan biar Allah makin cinta, maka mari kita sama2 melakukan aktivitas yang dicintaiNya.

Wallahu'alam, saya suka jadi malu kalo nasehatin kayak gini teh. Karena sendirinya juga masih sering suka nyerempet batas kalo masalah cinta mah, hehehe...

NB :
- Tadi saya berbuka sambil ngetes daging domba ditumis pake saus madu lemon. Enak euy! Apalagi ditemenin sama jus semangka, segaaar !


- Ternyata omset ga seperti yang dibayangkan, RK cuma rame selama sejam, sisanya kosong melompong. Hehehe....

RAMADHAN #1

Temen2, mohon maaf :(

Sehubungan ramadhan ini saya mau ngasah skill nulis secara kuantitas, maka seri kilas balik pasca lulus saya liburkan dulu.

Saya mau nyoba nulis pengalaman 30 hari ramadhan, hikmah apa yg didapet, peristiwa apa yg terjadi, dsb.

Mari kita mulai...

Hari pertama ramadhan kali ini beda banget. Kalo dulu waktu saya untuk keluarga sangat luang, tapi tahun ini nampaknya tidak.

Alasannya, karena bisnis yang baru berjalan 5 bulan masih harus terus didampingi. Sempet stress, tapi akhirnya saya anggap aja ibarat bayi yang lagi lucu2nya, capek tapi bikin bahagia.

Nah, alhamdulillah tadi malem RK rame banget, omset 3x lipat biasanya. Munggahan kali ya.

Tapi yang bikin lebih bersyukur adalah, walau rame tapi karyawan kerjanya nyantai. Mungkin karena 'flow' nya udah ketemu.

Ga kaya dulu, yang pas rame semua karyawan kehilangan senyum di wajahnya karena saking pusing dan sibuknya.

Oya, tadi malam saya tarawih di Salman ITB, saya milih disini karena nyari suasana. Secara, ini masjidnya para aktivis gitu loh.

Dan emang bener, pas saya dateng, anak muda dengan wajah bercahaya bertebaran dimana2 sambil khusyuk dengan mushafnya masing2. Gaya bener...

Ceramahnya bikin ngantuk, tapi imamnya ok banget. Ustadz Abu Amr yang emang spesialisasinya tahsin tilawah.

Mendengar suara beliau jadi serasa reunian lagi, karena tahun kemaren beliau itikaf di masjid deket rumah saya, Masjid Al Muhajirin.

Abis tarawehan saya sama Kang Asep dan Kang Agus harus belanja bareng2 karena bahan baku pada abis. Ya jelas lah, omset melejit, pasti pada abis bahan bakunya.

Pergilah kami ke Ciroyom

Ga disangka2, ternyata pasar sepi, pedagang pada tutup. Padahal kami mau belanja cumi 50 kg. Sempet agak bingung juga harus beli dimana.

Akhirnya diputuskan belanja ditunda besok pagi aja, di sebuah hipermarket. Pertimbangannya, walau harga mahal, kualitasnya yahud.

Kenapa ga milih belanja di pasar lain? Karena kalo belanja pagi, biasanya bahan baku udah ga bagus, dan harga ga jauh sama hipermarket.

Yah, dilema memang. Di satu sisi harus mendukung pedagang pasar tradisional. Tapi di sisi lain kualitas dan harapan yang diinginkan belum semuanya dapat terpenuhi oleh beliau2.

Ok, nyambung lagi besok ya

NB : Kalo buka bareng, di REPUBLIK KULINER ya, PASTI dapet Teh Botol Sosro GRATIS!!! Reservasi bisa lewat HP saya atau ke 022 421 3595, oya hampir lupa, HOTSPOT udah jalan, lancar dan tentunya GRATIS!!!

Selasa, 12 Agustus 2008

KILAS BALIK PASCA LULUS (3)

Baik adik2, mari kita sambung ;)
Dulu saya pernah cerita bahwa hidup seseorang tidak akan jauh dari 3 Ta, yaitu
1. harta
2. tahta
3. wanita

Nah alhamdulillah, sobat saya menyadarkan bahwa ada satu lagi yang lupa. Yaitu Taqwa...

Kemaren2 saya udah nyeritain tentang dunia taqwa. Nah sekarang, mari kita berbicara tentang harta. Lebih spesifiknya mengenai bisnis.

Pasca lulus, mungkin karena khawatir melihat bisnis anaknya yang nampak ngga jelas (ya iyalah, udah mah dikerjainnya sambilan, usianya juga belum 5 taun) orangtua menyuruh saya bekerja. Doktrinnya standar, kerja dulu cari pengalaman dan ngumpulin modal, baru mulai membangun bisnis.

Terlihat tidak beresiko bukan? Sayangnya bagi saya justru itu sangat beresiko.

Bayangkan saat saya bekerja, menikah, karir naek, dan anak lahir. Cicilan rumah dan mobil baru setengah jalan. Gaya hidup meningkat, harga2 melejit kena inflasi. Beranikah saya melepaskan semua itu hanya untuk memulai bisnis dari jendol? Engga lah yauw...

Mendingan saya bisnis dari sekarang, mumpung masih bujang. Kalo rugi paling kena ke diri sendiri, ga ngorbanin orang lain. Masih bisa tinggal dan makan gratis di rumah ortu, untuk kemudian menata kembali hidup. Dan saya sih yakin, asal sabar, bisnis mah pasti berkembang seiring berjalannya waktu.

Karena saya yang keras kepala ga mau kerja, maka tanpa diminta, Allah pun melembutkan hati orangtua saya hingga mereka mengatakan 'Ya udah Gah, cari bisnis dimana kamu bisa belajar banyak disana, biar kami yang modalin'

Subhanallah, bukankah ini yang diimpikan para entrepreneur pemula. Dukungan orangtua, baik moril dan (yang lebih asoy) materiil.

Eh dasar anak muda yang sombong ga tau malu, saya malah menolaknya dengan alasan yang keliatan keren. Gue pengen ngebuktiin diri bahwa tanpa orangtua, gue bisa!

Alasan ini didukung fakta yang terlihat keren, yaitu selama 4 tahun saya bisa mendirikan 3 bisnis -1 tutup, yang 2 masih jalan- dengan modal mandiri.

Saya lupa bahwa saya ini muslim. Siapa yang tahu lancarnya bisnis saya bukan karena kehebatan diri saya, tapi karena tiap habis sholat orangtua saya tak pernah luput mendoakan saya. Sukses itu karena emang dimudahkan jalannya oleh Allah. Dan Allah senang pada anak yang mendapat ridha orangtuanya.

Singkat cerita saya pun alhamdulillah kembali ke jalan yang benar (jreng jreng...) Saya terima tawaran beliau tanpa ragu lagi.

Saya putuskan bisnis di bidang kuliner. Karena saya pikir ini bisa mengakomodasi kepentingan orangtua saya, dan saya bisa belajar banyak disini.

Akhirnya, modal pun turun. Saya yang biasanya hanya mengelola bisnis 7 digit, kini diamanahi 8 digit. Sangat besar bagi saya. Ibarat seorang anak SD yang naik ke SMP terus diospek secara anarkis, adaptasinya melelahkan lahir dan batin. Lebih2 di bisnis yang ini saya memang sendiri, engga kayak dulu yang bisnisnya bareng temen2 deket.

Pernah saking tertekannya, saya sampe pernah nge-SMS sobat saya 2 kata 'help me..!'

Dasar sahabat, tau aja yang saya perlu, dia cuma ngejawab 'kamu harus kuat Gah..!' Dan saya pun kuat kembali (uhuy !)

Untuk meminimalisir resiko, maka saya pun menggandeng salah satu resto steak nasional yang terkenal dengan slogannya 'harga kaki lima rasa bintang lima'. Prosesnya alhamdulillah mudah, pemiliknya pun insya Allah soleh dan solehah. Mereka terkesan saat saya menunda negosiasi karena mau sholat isya dulu.

Selain bermitra dengan resto steak, saya pun bermitra dengan sebuah resto seafood dimana pemiliknya adalah mantan koki salah satu resto seafood nomer 1 di Bandung. Untuk yang seafood ini, papah saya lebih berperan, karena beliaulah yang pengen agar di lokasi nanti menunya variatif ga cuma steak tapi seafood juga.

Maka akhirnya kami bertiga (saya, steak, dan seafood) pun beriring bergandeng tangan, walau ga sampe berpelukan, kontrak pun ditandatangani.

Masa berlaku kontrak tersebut adalah 3 tahun, namun masa percobaannya 3 bulan. Ini semacam tes pasar, apakah bisnisnya layak dilanjutkan atau tidak.

Gambaran umum kerjasamanya adalah, saya ngurus 'bagian depan' sementara mereka ngurus 'bagian belakang' alias dapur. Mereka ga perlu bayar tempat selama 3 bulan pertama, namun dari setiap makanan yang terjual saya potong XX persen.

Dan 3 bulan pun berlalu, resto steak mengundurkan diri. Sebulan kemudian resto seafood mengundurkan diri.

Laa yukallifullahu nafsan illa wus aha, Allah ga bakal membebani seseorang diluar kesanggupannya.

Bisnis harus tetep jalan sementara mitra pada mundur. Terlihat berat namun kalo saya pikir2 ternyata janji Allah tersebut emang bener.

Saat Allah membebani kita dengan suatu masalah biasanya
1. Allah karuniakan ilmu sebagai solusinya pada kita
2. Allah datangkan orang-orang yang bisa nolong kita

Akhirnya sebodo2nya saya, alhamdulillah teratasi tuh masalah. Dua hal diatas dateng beneran tanpa disangka-sangka, tanpa direncanakan.

Alhamdulillah, ilmu dan pengalaman meningkat drastis karena bakat terpendam saya tiba-tiba muncul. Yaitu bakat ku butuh, hehehe...

Selain itu Allah pun tiba-tiba ngirim jago masak yang siap digaji seadanya, pakar street smart marketing yang siap ga libur, jagoan keuangan yang jujur dan semangat walau lembur, dan anggota tim hebat lainnya.

Sama sekali ga terbayangkan. Kok mereka mau gabung dalam tim yang masa depan bisnisnya belum pasti kayak gini?

Sekarang sudah bulan kelima, alias sebulan setengah saya mengelola 'bagian depan' dan 'bagian belakang' sekaligus. Alhamdulillah, sewa tempat dan gaji karyawan masih lancar diberikan.

Jadi inget saat Aa Gym mengibaratkan hidup kayak maen catur.

Tujuannya sih ke daerah musuh, tapi jalannya ga pernah lurus. Bisa miring, bisa belok, bisa mundur dulu, bahkan bisa aneh kayak kuda yang jalannya mirip huruf L.

Tapi akhirnya, mau bolak-belok kemanapun, bisa juga skak mat!

Begitupun hidup, saat tujuan/keinginan kita tercapai, biasanya kita teringat akan keindahan prosesnya yang dulu berkelak-kelok.

Yah memang, rencana Allah selalu manis, tinggal optimis aja kita mah :)

Eh ngomong2, ada yang punya pengalaman serupa?

Bersambung...

Gambar diambil dari sini

KILAS BALIK PASCA LULUS (2)

Setelah sebelumnya saya mendapatkan hikmah bahwa ibadah seharusnya berdampak pada kehidupan riil, dan Allah yang paling hafal siapa diri kita, saya juga mendapatkan hikmah lain setelah mulai merasa muak dengan ilmu-ilmu bagaimana supaya cepat kaya dan terkenal.

Judul bukunya banyak, tema seminarnya juga banyak. Tapi ya intinya membawa ke paradigma kapitalistik. Kumpulkan uang sebanyak-banyaknya, sampe super kaya, sampe nyantai, barulah kita berbagi ke mereka yang kekurangan. Buat apa kerja, menukar uang dengan waktu, ga bebas, dan sebagainya.

Biasanya paradigma macam ini menghasilkan sikap penuh topeng. Berpenampilan ala orang kaya, merasa bangga kenal dengan orang kaya, gemar berfoto dengan simbol2 orang kaya, foto disamping mobil anu, foto didepan panggung anu, dsb. Jujur aja, saya juga sempet seperti ini dan sisa2nya masih berlanjut sampe sekarang.

Dulu saya punya keyakinan, pengusaha itu lebih hebat dari pegawai. Orang kaya lebih hebat dari orang miskin. Orang terkenal lebih hebat dari orang yang bukan siapa2. Sebaik-baik manusia adalah yang kaya, terkenal, eksis, dan berpengaruh.

Saya lupa bahwa saya ini muslim.

Saya harusnya inget 2 hal bahwa
1. Ga harus kaya, yang penting harta kita sumbernya halal, dan disalurkan ke jalan yang halal
2. Ga harus eksis, yang penting setiap bertemu kenalan, kita ada manfaat positifnyanya buat dia

Logika sederhana aja. Manusia terbaik jelas Nabi Muhammad SAW, da beliau mah Nabi. Nah manusia terbaik yang bukan Nabi, tentu adalah para sahabat Nabi yang notabene manusia biasa kayak kita.

Pertanyaan :
Apakah Abdurrahman bin Auf yang super kaya raya lebih mulia dari Abu Hurairah yang miskin?
Apakah Khalid bin Walid yang perkasa lebih mulia dari Abdullah bin Mas'ud yang ringkih?
Apakah Mush'ab bin Umair yang idola para wanita lebih mulia dari Bilal yang dulunya budak?


Ya engga lah, masa ya engga dong ;P
Mereka mulia karena melakukan gaya hidup yang mengundang pertolongan Allah.

Maka, saya pun mulai belajar mengubah gaya, diantaranya :
- Selamat tinggal paradigma bahwa resolusi saya terwujud karena dituliskan
- Good bye paradigma impian saya terkabul karena saya banyak ngelamun.

Saya muslim, maka harusnya saya lebih yakin akan janji dan pertolongan Allah, daripada janji2 manusia yang walau (keliatannya) sukses tetep aja ga bisa nahan uban dan kentut.

Rezeki mah udah diatur dari sononya, bukan prestasi pribadi. Itu mah karena dia dimudahkan aja sama Allah.

Jadi kalo abis lulus anda mau jadi pengusaha, pegawai, ataupun jalur profesi kayak dokter/sastrawan/konsultan dsb, sami mawon lah. Satu sama lain ga ada yang lebih hebat.

Bersambung....

Artikel Terkait :
1. Para Raja yang Tidak Pernah Bermimpi Jadi Raja oleh Kang Aries Setiabudi
2. 10 Luck Tools Basic Level oleh Mas Arifin Novariadi

Gambar diambil dari sini

Senin, 11 Agustus 2008

KILAS BALIK PASCA LULUS (1)

Tahun ini bisa dikatakan produktifitas ngeblog saya berada di titik terendah, dua bulan engga posting bisa menjadi bukti nyata. Sebenarnya alasan bisa dicari-cari, tapi intinya sih saya tidak lagi menganggap blogging sebagai prioritas dalam aktivitas saya sehari-hari.

Akhir2 ini saya suka ngelamun, ngapain juga saya ngeblog, nulis hidup saya sehari-hari, toh malaikat juga udah nyatet di kiri dan kanan dengan detail detik per detik. Serius banget ya?

Tapi ya tentu saja tiap amal bergantung pada niat. Dan setiap niat baik seharusnya didukung oleh semangat yang stabil, sayangnya saya belum termasuk manusia yang ngeblog dengan sikap sekeren itu.

Salah satu sebabnya mungkin karena siklus hidup yang jauh berubah. Semenjak membuka bisnis di bidang kuliner, saya jadi sering pulang larut malam dan bangun tidur saat matahari meninggi. Untuk mandi pun sering cuma sekali sehari, tapi tenang karena yang jelas saya tetep ganteng lah pokoknya.

Baiklah, untuk melemaskan jari setelah cukup lama vakum, saya mau cerita tentang kilas balik hidup pasca lulus kuliah hingga hari ini.

Saya diwisuda september 2007, dan dari dulu memang paradigma wisuda bagi saya adalah wilujeng susah damel (terjemah : selamat susah cari kerja). Makanya jalur wirausahalah yang saya pilih.

Tapi tetap saja pertanyaan dalam hati seperti :
- habis lulus ngapain
- kalo mau kerja, dimana
- kalo mau bisnis, bisnis apa
- gimana kalo bisnis bangkrut atau ga maju2
- gimana kalo saya ga jadi siapa2 alias pecundang
Terus terngiang-ngiang

Ini manusiawi, dan sempat membuat saya kehilangan semangat. Saat itu, saya sudah menjalankan dua bisnis. Yang pertama bimbingan belajar yang dikelola oleh sahabat saya, dan yang kedua adalah fotokopi yang saya kelola sendiri. Namun, dua2nya belum menghasilkan pendapatan setara lulusan S-1.

Periode ini cukup kontradiktif, secara kuantitas ibadah saya meningkat, namun secara amalan hati saya menjadi orang yang mudah tertekan/stress.

Alhamdulillah, di periode ini saya dikaruniai hikmah. Disini saya menjadi sadar kembali, bahwa sebuah ibadah seharusnya berdampak pada kehidupan riil.
Misalnya :
- Aneh bila sholat rajin, tapi terbata-bata bila berkomunikasi dengan Allah
- Aneh bila shaum rajin, tapi lemah, malas, dan pelit
- Aneh bila tilawah rajin, tapi tidak terlihat tenang dan berseri-seri
- Aneh bila sedekah rajin, tapi tidak yakin akan janji dan pertolongan Allah

Ada contoh yang alhamdulillah Allah perlihatkan secara nyata pada saya. Yaitu seorang teman yang meminta saya menyalurkan SELURUH gajinya untuk disedekahkan karena ingin meniru tawakkalnya sahabat Abubakar Radiyallahu'anhu.

Hingga sekarang teman saya ini masih ngekos di kamar yang sempit. Gajinya dibawah UMR. Namun dari semua kenalan saya, hanya dia yang setiap hari selalu gembira. Setiap hari selalu ada saja momen untuk tertawa lepas.

Walau secara dzahir miskin, dia belum pernah sampai tidak makan selama hidupnya, dan anehnya postur tubuh dia lebih gendut dari saya yang notabene bisnisnya di bidang kuliner.

Dulu saat masih dagang di kaki lima, dia pernah menjadi jalan taubat temannya yang seorang pecandu. Hingga sang pecandu tersebut meninggal dalam keadaan menyebut nama Allah.

Dulu juga dia pernah menyantuni seorang teman yang sepi dagangannya (ibu-ibu pedagang kerudung) sebesar 50 ribu perhari agar sang ibu bisa membeli susu buat anaknya yang masih kecil.

Padahal teman saya ini pun bukan orang kaya, hanya dagang kaki lima.

Dia cuma yakin, bahwa janji dan pertolongan Allah itu lebih bisa diandalkan daripada kecerdasan diri sendiri.

Nah sebagai informasi, beliau bukan aktivis. Tidak berpenampilan ala aktivis. Hanya mengamalkan apa yang dia tau dari ceramah umum yang pernah diikutinya.

Di periode ini pula saya mendapatkan hikmah, bahwa Allah yang paling hafal siapa kita, lahir dan batin.

Surga bukan hanya milik aktivis. Ibu rumah tangga yang tidak pernah luput membagi makanan pada tetangganya, pedagang indomie yang walau ekonominya pas2an tetap berusaha ngirit agar anak asuhnya bisa sekolah, mahasiswi berkerudung gaul yang rutin shaum senin kamis, tukang roti bakar yang tidak luput dari tahajjud, juga memiliki peluang yang sama untuk masuk surga.

Karena itulah, pasca lulus saya berusaha hidup lebih manusiawi. Berusaha menyesuaikan apa yang nampak dan tersembunyi secara proporsional. Tidak takut dicibir bila terlihat konyol, tidak takut dianggap remeh bila terlihat bodoh, tidak takut ditertawakan bila berbuat salah.

Makanya ada peribahasa 'jangan menilai seseorang dari blognya doang' hehehe... pembenaran terselubung.

Bersambung...

Gambar diambil dari sini

Selasa, 20 Mei 2008

TIGA PETUAH PAPAH TENTANG CINTA


Disadari atau tidak, setiap anak laki-laki gemar meniru apa yang dilakukan oleh bapaknya. Baik ucapan maupun perbuatan, setuju ?

Begitupun saya. Boleh saja saya mengaku belajar dari buku, atau dari para guru kehidupan. Namun petuah yang diwariskan oleh Papah lah yang biasanya paling membekas di sanubari.

Dan kawan, diantara petuah sakti tersebut adalah tentang cinta

Petuah pertama, "Gah, jangan pacaran hingga kau masuk bangku kuliah. Karena itulah saat dimana para wanita berada di puncak kecantikannya"

Saya dapatkan petuah ini saat dibangku sekolah dasar. Saat kelas enam, dimana satu-persatu teman dekatku yang mulai puber, mempraktekan ajaran sesat sinetron dan film india yang bernama pacaran. Saya ingat, saat itu ada tiga anak gadis yang kuincar. Si gadis pintar rendah hati, si gadis tinggi putih langsat, dan si gadis manis imut di kelas sebelah.

Saya ingiiin sekali menggandeng salah satunya. Apalagi, ternyata rahasia yang saya simpan rapat-rapat ini ternyata bocor juga. Entah siapa diantara sobatku yang tega membocorkannya. Tau sendiri dong, fakta yang menyebar seolah bahan bakar yang akan menyulut kenekatan seorang bocah laki-laki yang hormon cintanya sedang meledak-ledak.

Hingga akhirnya petuah Papah meredam semuanya, saya memutuskan menunda pacaran.

Dan di bangku SMA, petuah papah ternyata mengantar saya pada petuah yang lebih baik. Saya tidak mau pacaran!

Karena puji syukur alhamdulillah, Allah kirimkan alumni soleh dan solehah ke sekolah kami. Allah kenalkan cerpen dan novel islami di Pasar Buku Palasari. Menjejalkan konsep kebenaran dalam sukmaku. Bahwa Islam memiliki konsep yang jauh lebih mak nyus daripada pacaran.

Petuah kedua, "Gah, salah satu ciri jodoh adalah, saat si dia terus terbayang di ingatan selama tiga bulan. Walau antara kau dan dia, tak sering berinteraksi"

Beliau menyampaikan petuah ini saat saya SMA, sambil membumbui kisah cintanya dengan mamahku. Dan tentu, sebuah teori yang dilandasi fakta di depan mata. Apalagi disampaikan oleh pria yang kita yakini kejujurannya, sangat sulit terbantahkan.

Sayapun mencoba mengamalkannya. Tiap ada wanita mampir ke salah satu sisi hati, saya layani namun saya pun tak mau liar menghampiri. Saya camkan petuah Papah. Harus sabar selama tiga bulan. Dan ternyata, konsep ini cukup efektif bagi saya untuk membedakan definisi antara simpati, kagum, dan cinta.

Namun, sekali lagi bahwa hidup ini berproses. Kita tak boleh memastikan jodoh, sebelum akad terucap. Petuah nomer dua ini, ternyata tetap memerlukan pelengkap berupa keimanan terhadap takdir. Saya harus belajar rela, bila si gadis tiga bulan tersebut, ternyata menerima pinangan lelaki lain untuk mengikat akad dengannya.

Namun, sebelum hal itu terjadi, boleh dong jika saya tetap menyempurnakan ikhtiar cinta ;)

Saya mengira, petuah nomer dua itu adalah akhir. Tapi ternyata tidak. Baru bulan ini papah menyampaikan petuah terbarunya. New release, fresh from the oven, aktual tajam dan terpercaya :P

Petuah ketiga itu adalah, "Gah, jangan tergesa dalam cinta. Kau harus mengoborol dan temui dirinya, minimal enam kali!"

Tapi ingat kawan, ada syarat dan ketentuan berlaku disini. Si dia harus memberi izin terlebih dahulu untuk ditemui, dan pertemuan itu harus tetap di koridor aturan syar'i.

Tak boleh berduaan, harus ada mahrom, atau minimal penengah. Agar syetan tak kuasa menghembuskan sikap bujuk rayu pada sang lelaki, dan sikap manis manja serta menggemaskan pada diri sang perempuan.

Saya setuju, dan berharap petuah nomer tiga ini bisa beres teramalkan tahun ini. Amiiin...

Demikianlah kawan, petuah dari Papahku tentang cinta. Moga bermanfaat ya :)

Kamis, 15 Mei 2008

BAGAIMANA SAYA MENGATASI PERASAAN KESENDIRIAN


Pernahkah anda merasa stagnan, bosan, dan sendirian?

Saya pernah, sebulan sekali malah :) dan memang rasanya sangat-sangat tidak nyaman.

Saat momen ini tiba, biasanya saya mendadak bingung dengan ilmu-ilmu yang sudah saya ketahui. Ilmu tarik nafas, ilmu kontemplasi, ilmu tilawah, ilmu dzikrullah, dan sebagainya.

Memang, mengetahui adalah hal yang berbeda dengan meresapi. Namun tidak perlu merasa menyesal, jika kita memang belum sempurna dalam meresapi ilmu-ilmu tersebut. Karena untuk itulah kita hidup. Untuk berproses.

Saya yakin, setiap kita memiliki kenangan manis dalam menjalani hidup. Hal itu bisa saja berupa ekspresi bangga dari orang tua, tatapan kagum dari kakak adik tercinta, ucapan terimakasih yang tulus dari sahabat terdekat, dan perasaan bahagia yang membuncah saat calon istri menerima pinangan kita ;)

Tidakkah kenangan menjadi manis, karena proses yang ada di setiap sendi-sendinya?

Dan lebih penting lagi, tidakkah kenangan menjadi manis, karena pada langkah demi langkah prosesnya, senantiasa ada orang lain yang tulus terlibat?

Begitulah, sebenarnya kita tak pernah benar-benar sendirian. Allah selalu mengirimkan hamba-Nya di sekitar kita. Hanya saja, benteng ego terlalu tinggi meliputi hati kita. Sehingga pancaran rasa sayang mereka, tidak sampai ke relung jiwa.

Maka mulai hari ini, anggaplah mereka sebagai jawaban Allah atas doa-doa kita. Hancurkan benteng ego di hati, tiada guna mendewa-dewakan gengsi.

Sombong sekali kita, bila Allah sudah kirimkan jawaban, namun kita tidak jua mau menyambutnya.

Allah sudah mengirimkan mereka
Yakinlah, mereka adalah kiriman terbaik dari Allah

Bukankah diantara ciri mereka yang mendapat naunganNya di akhirat kelak adalah seseorang yang bertemu karena Allah, dan berpisah jua karenaNya?

Hidup ini indah bila dijalani bersama-sama, setuju?

NB - Mungkin karena hikmah inilah, akhir-akhir ini saya semakin nyaman dan lancar bercerita pada orangtua, adik, dan sahabat saya. Bahkan mengenai hal-hal yang membuat saya tersipu malu :P