BAGAIMANA SAYA MENGATASI PERASAAN KESENDIRIAN

Kamis, 15 Mei 2008


Pernahkah anda merasa stagnan, bosan, dan sendirian?


Saya pernah, sebulan sekali malah :) dan memang rasanya sangat-sangat tidak nyaman.

Saat momen ini tiba, biasanya saya mendadak bingung dengan ilmu-ilmu yang sudah saya ketahui. Ilmu tarik nafas, ilmu kontemplasi, ilmu tilawah, ilmu dzikrullah, dan sebagainya.

Memang, mengetahui adalah hal yang berbeda dengan meresapi. Namun tidak perlu merasa menyesal, jika kita memang belum sempurna dalam meresapi ilmu-ilmu tersebut. Karena untuk itulah kita hidup. Untuk berproses.

Saya yakin, setiap kita memiliki kenangan manis dalam menjalani hidup. Hal itu bisa saja berupa ekspresi bangga dari orang tua, tatapan kagum dari kakak adik tercinta, ucapan terimakasih yang tulus dari sahabat terdekat, dan perasaan bahagia yang membuncah saat calon istri menerima pinangan kita ;)

Tidakkah kenangan menjadi manis, karena proses yang ada di setiap sendi-sendinya?

Dan lebih penting lagi, tidakkah kenangan menjadi manis, karena pada langkah demi langkah prosesnya, senantiasa ada orang lain yang tulus terlibat?

Begitulah, sebenarnya kita tak pernah benar-benar sendirian. Allah selalu mengirimkan hamba-Nya di sekitar kita. Hanya saja, benteng ego terlalu tinggi meliputi hati kita. Sehingga pancaran rasa sayang mereka, tidak sampai ke relung jiwa.

Maka mulai hari ini, anggaplah mereka sebagai jawaban Allah atas doa-doa kita. Hancurkan benteng ego di hati, tiada guna mendewa-dewakan gengsi.

Sombong sekali kita, bila Allah sudah kirimkan jawaban, namun kita tidak jua mau menyambutnya.

Allah sudah mengirimkan mereka
Yakinlah, mereka adalah kiriman terbaik dari Allah

Bukankah diantara ciri mereka yang mendapat naunganNya di akhirat kelak adalah seseorang yang bertemu karena Allah, dan berpisah jua karenaNya?

Hidup ini indah bila dijalani bersama-sama, setuju?

NB - Mungkin karena hikmah inilah, akhir-akhir ini saya semakin nyaman dan lancar bercerita pada orangtua, adik, dan sahabat saya. Bahkan mengenai hal-hal yang membuat saya tersipu malu :P

11 sobat yg nanggepin:

Hendrata Prabowo Logz mengatakan...

wah pak agah seperti nya harus menikah ni kalo kesepian terus.. hehe baru putus ya sama pacar nya??? hehe
apa kabar pak???

indrakh mengatakan...

Kehadiran keluarga seringkali menjadi pengobat hati yang sedang bosan. Istri dan anak bisa me-refresh hidup kita yang dilanda kejenuhan. Insya Allah

Donny mengatakan...

Ini teh mau cerita kalau lamaran diterima? :)) Bukan ego sih gah, cuma penasaran ... aya keneh teu nya nu langkung sae ti nu ieu? =))

bluestockin mengatakan...

saya justru mencintai kesendirian, meskipun saya juga sangat menyukai keramaian dan bertemu orang2 baru

All About All mengatakan...

Bisa merasa sendiri sebulan sekali buat saya adalah berkah. Karena biasanya lebih dari sebulan sekali hehehe Tapi yang namanya kesendirian rasanya memang hanya akan berlangsung dengan indah kalau bisa dinikmati. Benar. Padahal banyak kasih di sekeliling diri. Tinggal cukup menyadari.

Byakugie mengatakan...

kirain yang kang agah banyak relasinya gak pernah merasa sendirian !!!

btw, jadi inget quote dari game FF IX
"I DON'T WANNA BE ALONE ANYMORE"
(eiko)

So, Jangan Pernah Merasa Sendiri !!
God Always with you !!

anugerah perdana mengatakan...

@ kang bowo : hmm, mentang2 panganten baru lu ye. Manas2in gue :P

@ pak indra : kalo masalah istri dan anak mah, saya belon pengalaman pak. Tapi saya percaya kok kata bapak :)

@ kang don : nu langkung sae ti nu ieu? nung langkung awis, seueur (kayak iklan obat nyamuk)

@ bluestockin : kok saya bingung ya

@ mbak natasya : masa penyiar radio kesepian, ga percaya ah

@ byakugie : banyak relasi ga sama lho dengan banyaknya yg nyantol di hati ;)

Muhammad Umam mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh penulis.
Muhammad Umam mengatakan...

terima kasih atas sarannya moga saja rasa kesendirian yang saya derita selama 7 tahun dapat terobati :)

Muhammad Umam mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh penulis.
Muhammad Umam mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh penulis.