Jumat, 04 Januari 2008

3 CIRI SESEORANG SUDAH MENJADI SOBAT KITA

Saya yakin di media sudah bertebaran tulisan serupa. Dan memang, tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman sederhana aja. Engga usah dianggap serius2 banget, apalagi sampai dibahas bersama-sama dalam sebuah panel :P

Nah, tulisan saya disini akan menjawab apakah orang yang kita kenal dari dulu hanya sekedar teman ATAU sudah meningkat statusnya menjadi sahabat?

Cirinya menurut saya adalah

1. Sudah saling berkunjung ke rumah masing-masing
Agak aneh kan jika kita mengaku kenal dekat dengan seseorang, sudah bergaul lama dengannya, tapi sama sekali belum pernah berkunjung ke rumahnya!?

Saya rasakan secara pribadi, bahwa saat ada seorang teman yang berkunjung ke rumah kita, ada perasaan yang berbeda. Seolah sekat/batas di dalam hati kita padanya terbang begitu saja. Kita akan menjadi jujur apa adanya pada dia.

Seorang sahabat sejati tidak akan pernah ragu berkunjung walau gunung kan kudaki (asal gunungnya rendah) dan lautan harus kuseberangi (asal lautnya dangkal). Cieh...

Biasanya setelah kunjungan, kita suka engga sabar ingin berkunjung balik ke rumahnya. Apalagi kalo ngedenger kalo orangtuanya adalah pengusaha catering. Mak nyus!

2. Saat di rumah sang sobat, kita sudah tidak canggung lagi sama keluarganya
Wajar apabila kunjungan pertama masih menimbulkan kecanggungan dalam sikap kita. Jadi tentu saja, ketidakcanggungan kita dengan keluarganya adalah dampak dari kunjungan yang tidak sekali dua kali.

Ciri tidak canggung adalah, kita bisa dengan nikmat mengobrol dengan orangtuanya walaupun sobat kita tidak ada di tempat.

Selain itu, kita juga dengan tenang bisa menjelajah ruang-ruang dalam rumahnya tanpa gugup. Ke ruang tamu, ke ruang nonton, ke kamar mandi, ke gudang (ngapain coba?) dan sebagainya.

Bahkan tingkat tertinggi adalah, kita bisa menjadi "bagian" dari keluarganya. Ngerti kan maksudnyah ;P

3. Kita bisa dengan tenang menunaikan hajat kita di rumahnya
Heuy! Hajat disini diartikan luas ya. Maksudnya bisa aja hajat kita adalah lapar, kita sudah tidak gentar lagi mengambil piring di dapurnya (setelah izin tentunya). Atau hajat kita adalah istirahat, maka kita sudah rileks untuk mengambil posisi tidur tanpa jaim di kamarnya.

Atau yang tingkat tinggi, misal hajat kita adalah peningkatan iman, maka kita sudah tidak ragu lagi untuk wudhu dan tahajjud/dhuha di rumahnya.

Dan yang engga kalah pentingnya emang menunaikan hajat yang "itu". Karena ciri bahwa kita sudah nyaman dengan sebuah lingkungan adalah : kita bisa dengan mudah menunaikan hajat "paling esensial" kita tanpa malu-malu disana.

NB - Kalo diatas tulisannya tentang meningkatkan status dari teman menjadi sahabat. Gimana ya, cara meningkatkan status dari teman menjadi "pendamping" hehehe....

4 komentar:

noertika mengatakan...

hmmm... saya agak kurang yakin dgn item nomor 2...hehehe

btw, sobat yang baik itu paling kentara saat kita susah, dia akan senantiasa mendampingi dan ngebantuin kita...:)

salam kenal

http://daengrusle.com

anugerah perdana mengatakan...

Wah ada seleb mampir nih
Apa kareba? Baji-baji! :D

Memang sih daeng, yang nomer dua bisa diterima atau tidak. Karena belum ada penelitian ilmiahnya hehehe...

Saya setuju dengan statement terakhir dari daeng. Punya pengalaman tentang hal ini?

niez mengatakan...

saya jadi inget. saya blum pernah berkunjung ke rumah sahabat saya...lha habisnya sahabat saya jarang di rumah... :(

anugerah perdana mengatakan...

salam kenal ya buat mbak niez :) saya klik profilnya kok ga bisa dibuka ya?

emang sobatnya ngekost ya?
wajar atuh kalo jarang di rumah mah