Rabu, 10 September 2008

RAMADHAN #9

Saya mau ngobrolin makanan, khususnya tentang masakan padang. Mudah2an ngga pada ngiler ya :)

Sesuai dugaan, makin kesini RK makin dipercaya sebagai tempat berbuka puasa bersama oleh pelanggan setia kami.

Apalagi dengan bertambahnya meja dan kursi, jelas kesibukan makin tinggi. Apalagi di bulan ramadhan ini kami ngga nambah pegawai. Pengen ngetes, sejauh mana titik maksimal kinerja kami saat ini.

Bagi (segelintir) teman yang kagum melihat saya turun langsung melayani pelanggan, biasa aja kaleee...

Ini mah ya karena emang ga ada lagi pegawai. Sama sekali bukan karena saya ini rendah hati, down to earth dan sebagainya, jangan tertipu ya hehehe...

Nah biasanya jam 8 malem, kesibukan sudah mereda.

Karena lapar (pas buka baru minum teh botol doang) Maka saya pun kepikiran untuk memuliakan diri. Manja ya, baru kerja bentar udah mau memuliakan diri lagi hehehe...

Yang terpikir adalah gulai kepala kakap khas Rumah Makan Padang Sederhana (RMPS) yang logonya SA.

Buat temen2 deket saya, pasti tau kalo saya paling anti makanan pedes. Soalnya dari kecil saya dididik sama ortu seperti itu. Hasilnya, kalo ngegigit cabe rawit walau cuma seiris, bisa nangis mata saya.

Nah kok bisa saya seneng makanan padang yang dikenal pedes.

Sejarahnya adalah saat saya diajak kakek jalan2 ke jakarta dan mampir di RMPS. Karena terpaksa (masa harus protes ke kakek sendiri) maka saya pun milih menu yg ga pedes disana.

Saya direkomendasiin buat milih Gulai Kepala Kakap (yg ternyata menu termahal disana).



Ekspektasi saya ga gitu tinggi. Namanya juga makanan padang. Paling gitu2 doang, pikir saya.

Tapi setelah mulai menyuap dagingnya yang putih tebal disertai kuah yang kuning muda, rasanya wuiiiih muaaaaknyuuuussss uenak beneeeer !!! (Heh lagi shaum, jangan ngiler)

Daging ikannya mudah lepas dari tulang, ga amis, dan kuahnya sangat spicy. Benar2 resep dewa hahaha...

Kembali ke laptop.

Sambil melamun di RK, saya coba2 nginget, dimana ya RMPS terdekat. Oh di Jl.Riau. Sambil keroncongan, saya pun membonceng teman saya. Kami meluncur ke sana.

Pas sampe, ekspektasi kami sudah di puncak. Tapi saat baru saja masuk dan meminta menu dewa tersebut pada pegawainya, ternyata gulai kepala kakap sudah habis sodara2 !!!

Fiuuh, ga boleh lama2 kecewa. Kami pun inget kalo lurus terus, di Jln.Pelajar Pejuang ada restoran yang mirip, namanya Sederhana Bintaro, yang logonya SB. Dulu saya pernah nyoba, dan rasanya ga beda jauh.

Motor pun saya kebut. Suasana makin kalap, kalaparan :D

Dan kami pun sampai. Pintu rumah makan kami buka, dan pertanyaan yg sama kami ajukan ke pegawainya.

Ada gulai kepala kakap? Kata saya
Ada ! Kata pegawainya
Cihuy, alhamdulillah ! Kata saya dalam hati
Ya udah mesen dua porsi, Kata temen saya

Dan jawaban yang tidak diduga2 pun muncul

Maaf pak gulai kepala kakapnya tinggal satu, masih mau? Katanya pegawainya polos

Saya saling berpandangan dengan teman saya. Dan menyadari bahwa masing2 kami bukanlah orang yang cukup dermawan untuk berbagi makanan. Dan kami pun keluar, membatalkan pesanan sambil tercenung.

Untung tercenungnya ga lama, karena setau saya dideket sini ada juga restoran padang megah dengan embel2 merek Sederhana juga. Inisialnya MSP. Ada di prapatan Pelajar Pejuang-Lodaya.

Setau saya, restoran ini udah buka beberapa bulan, tapi kok walau megah masih sepi juga tiap saya lewat.

Tapi sudahlah, ga penting ngurusin bisnis orang. Mending sibuk ngurusin bisnis sendiri.

Kamipun masuk. Dan alhamdulillah, horeeeee, menu-nya ada!

Kami duduk di pojokan, yang kursinya empuk. Tak lama pesanan datang.

Weeeh, gede euy kepala kakapnya. Emosi memuncak, karena lapar. Dan tangan saya pun langsung bergerak menyendok kuahnya sambil mengambil dagingnya.

Suapan pertama pun masuk.

Dan tebak sodara2, saya kecewaaaaa wa wa wa !!!

Dagingnya keras, masih ada tulang, anyir, dan yg parah kuahnya pedes.

Fiuuuh karena ini bulan ramadhan, untung saya cepet sadar. Di satu sisi saya kecewa, tapi di sisi lain saya kasihan kepada owner rumah makan ini.

Investnya udah gila2an, interior dan eksteriornya megah banget. Mungkin ada kali invest sekitar 4 milyar mah. Tapi inti bisnisnya, yaitu makanan enak, sayangnya malah terlupakan.

Makanan tetep saya habiskan. Dan pas membayar tagihan, kami pun memberi masukan kepada pegawainya, sambil nitip pesen agar disampaikan ke bosnya.

Yah, sebagai sesama pengusaha, sebuah profesi yg jarang dipilih orang, tentu saya pun berharap agar kami bisa sama2 sukses. Amiiin

Artikel terkait
- Pada Mulanya Memang Sederhana by Majalah Gatra
- Ekspansi Gaya RM Sederhana Bintaro by Majalah Swa
- Dasar Padang Geblek by MTA

Foto diambil dari sini

2 komentar:

faisol mengatakan...

terima kasih sharing info/ilmunya...
saya membuat tulisan tentang "Mengapa Pahala Tidak Berbentuk Harta Saja, Ya?"
silakan berkunjung ke:

http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/08/mengapa-pahala-tidak-berbentuk-harta.html

semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...

salam,
achmad faisol
http://achmadfaisol.blogspot.com/

samy n mami cicie mengatakan...

wah baru tau kepala kakapku ada yg minjem fotonya..hihihi..
salam kenal yaa..